Saturday, September 28, 2013
#210 Antologi Rasa by Ika Natassa
InsyaAllah kalian akan tahu saya mau nulis apaan kalau udah liat gambar yang saya pajang di halaman ini.
Jadi, iya, saya baru aja baca Antologi Rasa-nya Ika Natassa and I still feel like banging my head to every door I see. Oke, ini terdengar sangat berlebihan padahal setiap saya beres baca buku-bukunya Ika yang lain juga saya pengen kayak gitu. Saya harus akui, saya kesedot banget dengan gaya menulis dan cerita yang disuguhkan. Realistis dan kompleks, bungkusannya sangat apa adanya dan menggambarkan keadaan masa kini. (padahal dulu pas pertama baca itu saya sempat kaget sih
Oke, saya gak akan ngoceh-ngoceh soal Divortiare atau Twivortiare dan Beno dan how I instantly fell in love with that fiction character until now soalnya yang saya baru kelar baca emang Antologi Rasa dan saya gak tahu saya bakal kelar jam berapa kalau saya sambil muja-muja Beno di postingan sini. Secara singkat, sebetulnya saya sempat mikir jangan-jangan ceritanya bisa lebih terlihat "remaja" karena toh ide pokoknya emang triangle love, eh, nggak triangle ding. Cinta segi empat? Intinya, saya sempat mikir Mbak Ika nulisnya beda dengan novel-novel sebelumnya.
Tapi, ternyata nggak gitu.
I still adore her for writing everything simple, as easy as if she's painting reality. Detil-detilnya, gimana setiap detil yang dia pilih bisa gak terlihat sembarangan, sampai gimana setiap cerita itu selalu dibawa dari awal sampai akhir jadi gak ada yang wasted di plotnya. Duh, saya susah mau ngasih tahu sebenernya Antologi Rasa ceritanya kayak apa, tapi, untuk ukuranku yang lagi mabuk banget sama novel dengan storyline bersetting how adults live, semuanya bener-bener pas. Dan tahu, gak sih, setiap tokoh utama cowok yang digambarkan Ika Natassa dalam buku-bukunya itu selalu bisa bikin aku mati klepek-klepek muja-muja padahal jelas-jelas sadar mereka cuma fiksi. Inget Beno di Divortiare dan Twivortiare? Sampai sekarang saya masih susah move on dari gambaran saya soal Beno itu, contoh: "Kalau dia nyata dan bukan fiksi, mukanya mirip siapa ya?" atau "Kalau dia nyata, kebayang gak sih berapa orang yang ngeceng" atau yang terparah dan yang paling sering saya omongin ke temen saya
Malu-maluin. Maafin.
Di Antologi Rasa ini, I find Ruly's amazing apa adanya. Entah ya, somehow terkadang aku masih suka menemukan persamaan karakter idaman pada cowok-cowok protagonis di sini, like how Beno itu dulu dokter yang profesional banget tapi juga alim dengan penggambaran shalat di beberapa halaman novel itu, yang penggambarannya nggak berlebihan sampai kelihatan kalau memang karakter itu terlalu "fiksi" untuk ada di kenyataan. Di Antologi Rasa ini, Ruly juga ngingetin saya ke Beno sih. Profesionalitasnya ke pekerjaannya tinggi, yet tetep terlihat "idaman" gitu lho. Emang gawat banget nih ya Ika Natassa tahu aja yang bikin ogut klepek-klepek. Penggalian semua karakternya menurutku pas dan endingnya pun nggak mengecewakan. Seperti apa yang aku bilang, ceritanya mengalir bak air, nggak dipaksakan dan karena pendalamannya bagus, pembaca sih harusnya bisa paham alasan dari ending yang diberikan. Plotnya itu rasional banget sampai-sampai saya mikir ini nggak fiksi lho, jangan-jangan ini nyata.
Taree norak. Maafin.
Intinya, selama saya baca novel-novel karya novelis Indonesia, saya nggak pernah lho tersedot segini dalam.
Ketika penulis lain menawarkan cerita yang bagus tak terbayangkan, somehow Ika Natassa ini menyuguhkan hal yang sebenarnya familiar dengan dunia kita, yang begitu dekat dan begitu dalam, yang bahkan dengan sederhana dengan pembawaan ceritanya santai dan kadang-kadang ceplas-ceplos. Ceritanya terasa lebih realistis karena settingnya nggak anak muda lagi, jadi konflik yang disuguhkan juga jauh dari yang namanya konflik ecek-ecek kayak di novel anak muda. Oh My God I sound so biased. Tapi bener, deh. Saya baca cerita-cerita Ilana Tan, saya suka, tapi saya gak pernah bisa mikir lama banget sampai "kok bisa ya ceritanya detil dan kece parah kayak gini" kayak apa yang saya tanyakan ke diri sendiri seberesnya saya baca novel-novelnya Ika Natassa. Contoh lho contoh. Ini sebetulnya membuktikan, out of individual taste, dimana sebenarnya gaya tulisnya Ika Natassa itu sebenarnya bukan yang favoritku banget tapi she's story-telling. Dia kayak menuangkan pengalamannya ke dalam cerita, detilnya, feelingnya, semuanya kerasa nyata aja buatku.
Alay banget tulisanku. Maafin.
tapi serius deh, for those who haven't read this and other Ika Natassa's books, coba deh. :D
akhirnya, sampai jumpa
Labels: books, me, real life, review



0 Comments:
Post a Comment