Friday, March 15, 2013

#185 (just) another rambling

hello. It's been so daaaaaaamn long since I last posted here ; _ ; it's been a month already, I've been so busy with tasks and rl and another stuffs that I couldn't even reach a quality time to share here. Sekalinya dapet, saya malah mau ngoceh. Gak apa, sih. Blog ini tahu saya emang demen nyampah di sini. *krik*


Hal pertama yang saya ingin bagi adalah:

Satu metode wajib selama saya kuliah akhirnya sampai juga ke saya dan saya jadi berubah.

I mean, literally berubah.

Saya yang dulunya hobi banget meracau sesuka hati, ngoceh, gak peduli orang mau denger, peduli atau enggak, sekarang udah bisa lebih tenang dan bisa jadi pendengar yang lebih dominan dalam pembicaraan. Saya sendiri sebenernya enggak tahu ini berakar dari mana, tapi yang jelas ada sebuah kejadian yang menyadarkan saya bahwa saya sekarang emang udah agak 'belok' dari saya yang dulu.

Tadi, waktu saya naik bus mau pulang, saya bertemu dengan teman kecil saya yang sahabatan sama saya dari SD dan sampai sekarang pun satu universitas. Kami ada di fakultas yang berbeda. Sepanjang jalan, dia banyaaaaak sekali cerita tentang kehidupan dia yang baru sebagai mahasiswa. Saya ingat betul, seharusnya, percakapan itu berjalan dua arah dan bergantian terus-menerus, karena memang dari dulu itulah yang biasa kami lakukan kalau lagi ngobrol-ngobrol. Tapi, yang terjadi malah saya mendengarkan terus, terus, terus, dan paling hanya ngomong sekedar, "terus?" dan akhirnya dia bercerita lebih panjang dan lebih lebar, tanpa saya punya keinginan besar yang meledak-ledak untuk membagi milik saya.

Mungkin klise dan pede banget sih, tapi saya ngerasa emang jadi lebih kalem dan senang mendengarkan orang lain berbicara. (Apa karena efek jadi mahasiswa gitu, ya? Ngedengerin dosen ngelecture berjam-jam di depan tanpa boleh komentar?) #HEH

Di perbincangan itu, saya banyak mendengar sesuatu yang sepertinya "belok" dari ideologi hidup saya. Atau emang pada dasarnya, saya nggak suka mendengar hal-hal yang aneh, meski saya gak bisa menghindarinya, sih. Lingkungan emang dipenuhi banyak hal kayak gitu dan saya mau nggak mau cuma bisa memertahankan apa yang saya percayai. Begitu kan.

Terus, saya jadi mikir. Sebetulnya saya ini kayak gimana, sih. Sampai akhirnya sepanjang jalan saya mikir terus ngelamun di angkot dan punya hal yang bisa saya ceritain di sini. Cuma sekedar cerita, sih.

Terlepas dari apa yang telah saya dapet selama nyaris 2 dasawarsa saya hidup, rasanya saya tetep punya pegangan kalau

saya bisa hidup lebih bahagia meski hidup saya lurus-lurus saja.

Entah, karena apa yang terjadi sama saya selama ini memang cenderung lurus-lurus saja. Saya gak pernah ngerasa nyesel belum pernah nyoba ini dan itu, saya gak pernah ngerasa penasaran berlebih akan sesuatu melenceng yang banyak anak muda pengen banget coba, gak pernah sedikit pun saya kegoda untuk nyoba, malah. Mama saya pernah bilang, terkadang, orang baik belajar setelah mereka terpuruk dulu, dan baiknya mereka cenderung lebih hakiki dan permanen. Saya sendiri berpendapat, kalau mau bisa belajar untuk jadi baik, buat apa harus mencoba terjun ke lubang dulu?Saya ngerasa, udah tahu dan kenal sedikit saja sudah cukup untuk bahan saya belajar, untuk saya tahu dan memilih, karena menurut saya pribadi sih, di umur saya yang sekarang ini udah agak terlalu basi untuk nyoba ini itu sementara kita tahu konsekuensi yang bakal dihadapi.

Saya juga punya dinding sendiri, yang selalu mengingatkan saya kalau saya masih punya tempat untuk berteduh, untuk ngebawa saya balik ke jalan saya kalau-kalau saya khilaf. Mindset. Mungkin, mindset saya soal kehidupan bahagia yang lurus-lurus saja ini udah kebentuk entah sejak kapan, karena pada faktanya di masa-masa krisis identitas klimaks kayak gini saya nggak merasakan galau sedikit pun soal identitas. Ya sudah, saya Tari, tahun ini 19, senang baca, nulis, ngefans sama musik korea dan senang wajah-wajah asia, percaya Tuhan, percaya takdir dan sering mengalami kepuasan spiritual. Itu saja sudah cukup jadi benteng saya kalau ada sesuatu yang berusaha menggoda. Makanya, ketika orang merasa terombang-ambing karena godaan ini itu, saya rasa mungkin memaksakan diri agar punya mindset jadi alternatif sendiri. Mindset itu yang akan menuntun ke mana kamu bakal berlabuh, bukan orang lain. (Atau setidaknya, hal itu yang sering parkir di pikiran saya acap kali saya mendengar hal yang belok dari ideologi saya)

Saya juga percaya sih kalau sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Makanya, hidup lurus-lurus begini sudah banyak memberikan banyak makna, kok. Dan saya puas juga. Jikalau saya ingin yang lebih, lebih, lebih, memang sih ada kepuasan tersendiri yang digapai. Tapi, kepuasan itu maknanya bakal jadi terlalu subjektif. Entahlah, pada dasarnya saya emang lebih seneng kalau semua orang senang sama rata. Bukankah itu adalah esensi kental dari prinsip bersyukur?

(Anyway, berlebihan dan berbeda itu, jauh jauh jauh jauh beda.)

Jadi, buatlah mindsetmu sendiri.

(Saya emang old-styled.

Sesederhana itu. )

Labels: , ,



Posted by Taree @ 5:49 PM. 0 Comment .

0 Comments:

Post a Comment




Rewind                     Home                     Fast Forward


Amigos

Arina Listyarini
Pradnya Emeralda
Zaskia Osya Denaya
Tante Inne Larasati
Shafira Anjani
Sista Tamara
Eka Wahyuni
Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here