Tuesday, February 18, 2014

#246 Ketika Hujan

Ketika Hujan
~2.400 w 
“she loses hope and you lose chance.”

--------------------------------------



Kamu ingat ketika hujan mempertemukanmu dengannya untuk yang pertama kali?

You were clueless
. Kedua tangan memeluk tubuh sendiri sementara kepala ditengokkan ke segala penjuru, sesekali kamu mencuri pandang—kamu tidak sendiri, tujuh-delapan anak manusia berada di posisi yang sama denganmu, mungkin benang-benang doa yang kamu untai sama persis dengan apa yang mereka simpan dalam diam mereka—dear, heavy rain, please stop—bunyi ketuk-ketuk kaki kamu dengar dari kiri dan kanan, mereka-mereka yang tidak tahan untuk menunggu lebih lama kemudian melawan butir-butir air yang masih deras berjatuhan dari langit. Tempatmu berteduh kian lama kian sepi, menyisakanmu yang terdiam dengan tungkai yang mulai terasa tidak bersahabat untuk dibawa bertarung, kelopak mata yang terasa lebih berat dari keluhanmu setiap harinya, juga timbunan kekesalan yang kian menggunung.

Lalu, tanpa tendensi apa pun, kamu menengok.

Satu orang tersisa di sana, pemuda dengan sebuah payung merah marun yang sesekali dia ketukkan ke tanah. Kurva pada bibirnya meliuk, terlihat menikmati hujan yang seolah punya dunianya sendiri. Kamu tidak tahu bukan, kamu menatap sang adam lebih lama dari yang kamu pikirkan? Satu, dua, tiga, empat, lalu detik-detik lainnya berjalan sampai kemudian pemuda itu sadar dia diperhatikan dan menengok ke arahmu. Kalian bertemu pandang dan kamu tidak mengalihkan tatapanmu; kepalamu dijejali berbagai macam pertanyaan yang menolak dikeluarkan. Senyum yang terpatri di wajah pemuda itu malah melebar, kemudian detik berikutnya telingamu menangkap suara beratnya, menyapa.

“Sepertinya berhentinya masih lama, ya.”

Kamu tahu dia memaksudkan pernyataannya pada hujan itu, yang masih sibuk membasahi semua permukaan bumi, yang menyusahkanmu karena kamu tidak membawa payung dan tidak pernah berani menerobosnya. Kamu cuma mengangguk dengan senyum yang kamu pulas seadanya walau anehnya tatapanmu tidak juga dialihkan. Ada hening menyita waktu dan memberi jeda yang cukup lama di antara kalian berdua sampai bibirmu otomat melempar satu dari banyaknya pertanyaan yang masih berjejalan di dalam kepalamu.

“Tidak pergi lebih dulu? Kamu bawa payung, kan?”

Ada dengusan geli yang lolos dari sang pemuda sebelum dia menatap payung yang dia bawa dan kembali mencari-cari bola matamu yang menunggu, “Aku tunggu saja sampai hujannya berhenti, supaya kamu tidak sendirian kalau aku pergi lebih dulu dan ternyata hujannya tidak mau berhenti.”

Lalu kamu terkekeh pelan dengan semburat merah memenuhi kontur pipimu yang tembam.

Lalu kamu dan dia bertukar kata, kalimat, kekeh, dengusan-dengusan geli lainnya, berbagi cerita tanpa ada satu dari kalian yang berani berjalan mendekat. Di bawah langit yang sedang menangis, kamu dan dia tertawa renyah dan sesekali terbahak. Di antara jutaan emosi yang menggunung, kamu tahu kamu tak sepenuhnya menyesal karena lupa membawa payung hari itu.

Kamu dan dia akhirnya berpisah karena langit terlalu cemburu mendengar tawamu dan dia di sela-sela tangisannya. Hujan itu berhenti dan cerita pertamamu dengan dia berakhir. Kamu pikir, itu akan jadi pertemuan pertama dan juga terakhir—dunia begitu luas dan akan ada lebih banyak entitas yang kamu temui di hari-hari hujan lainnya ketika kamu lupa membawa payung.

Kamu tidak tahu, pemuda itu menatapmu jauh lebih lama sebelum kamu menatapnya sepersekian detik setelahnya. Kamu tidak tahu, betapa ingin pemuda itu meminta hujan turun lebih lama—betapa ingin cerita kalian tidak terhenti begitu saja di pertemuan yang pertama.

Kamu tidak tahu, permintaan pemuda itu ternyata terwujud.

***


Kamu masih bisa begitu jelas mengingat wajah gadis yang kamu temui saat hujan turun dengan deras. Kontur wajahnya—matanya yang bulat besar, pipinya yang tembam, bibirnya yang tipis—semua detil fisiknya yang tak lepas dari cela namun tetap melekat pada ingatan. Kamu ingat ketika gadis itu mengetukkan sepatunya ke tanah tak sabar, menuntut agar hujan segera berhenti sementara orang-orang di sekitarnya satu per satu pergi karena tak cukup sabar menanti jawaban dari doa mereka. Ketika hujan deras itu hanya menyisakan kamu dan dia di bawah tempat berteduh yang sama, kamu tidak benar-benar menyadari perasaanmu. Kamu tidak ikut pergi walaupun kamu memiliki payung di genggaman yang bisa menyelamatkanmu—malah, kamu menatapi butir-butir air itu berjatuhan dari langit dengan senyum terpampang jelas pada wajah dengan alasan yang buram karena kamu sendiri tidak menyadari apa yang telah terjadi. Kamu tidak tersenyum pada hujan karena kamu menyukainya, kamu tersenyum pada hujan karena kamu tahu Tuhan sudah merancang hujan turun hari itu untuk pertemuanmu dengan gadis itu.

Tidak, ketika itu kamu tidaklah sadar—belum.

Tapi hari ini, ketika wajah yang selama ini tersimpan dalam ingatanmu terlihat nyata di hadapanmu, kamu tahu semua yang terjadi bukanlah sebuah lelucon. Hujan mempertemukanmu dan dirinya dua kali. Kali ini, kamu sedang mencari tempat yang nyaman untuk menikmati waktu senggang sambil menunggu hujan berhenti di sebuah kafe di sudut kota ketika kamu menangkap sosok gadis itu. Begitu cepat, seolah-olah kamu memang berada di sana untuk bertemu dengannya lagi.

Entah apa yang telah kamu lakukan hingga pada akhirnya kamu dan dia duduk berhadapan, menyesap kopi hangat masing-masing dan sesekali berbagi cerita yang mungkin sudah pernah kamu ceritakan di pertemuan yang lalu. Kamu tersenyum tanpa komando saat tahu nama gadis itu dan setelahnya kamu berhasil dengan leluasa memanggil namanya. Kamu menutupi tawamu ketika kamu mendapatkan secuil informasi mengenai gadis itu lebih jauh, padahal otakmu sudah merancang rencana untuk membuat kamu dan dia tetap bisa berbagi cerita walaupun tidak harus bertemu setiap hari.

Tapi, toh pada akhirnya kamu tetap meminta gadis itu untuk datang lagi ke kafe yang sama di hari yang ditentukan. Kamu rakus, kamu tahu kamu ingin segera bertemu kembali ketika jarak itu kembali terbentuk saat hujan mereda dan kamu harus kembali pada duniamu sendiri. Begitu pun dirinya.

Kamu tidak tahu, gadis itu juga mati-matian menahan tawa walau pada akhirnya pipinya tetap dihiasi semburat merah seperti waktu lalu. Kamu tidak tahu, gadis itu melisankan namamu ratusan kali hingga terlelap di hari dimana dia mengetahuinya.

Kamu tidak tahu, gadis itu bahkan lebih rakus; karena sejak hari itu, bahkan gambaran pertemuan ketiga, keempat, kesepuluh, keseratus pun sudah terbayang di dalam benaknya.

***


Your wishes are truly no joke.

Pertemuan ketiga, keempat, hingga banyak pertemuan lainnya yang tak lagi kamu hitung benar-benar nyata. Banyak dari pertemuan itu terjadi ketika hujan turun—hal yang pada awalnya memang mempertemukanmu dengan dia. Jarak yang memisahkan kalian perlahan menipis, dinding tinggi yang semua menutupi rahasiamu dan rahasianya perlahan mulai runtuh karena kamu dan dia memang menginginkannya. Kamu semakin sering melisankan namanya di dalam tidurmu, membimbingnya masuk ke dalam alam bawah sadarmu sehingga menjelma menjadi mimpi. Kamu rakus dan tidak tahu bagaimana caranya untuk berhenti.

Kamu menginginkannya dan dia harus jadi milikmu.

Menyedihkannya, kamu tidak tahu takdir tidak selalu ada di pihakmu. Hari ini, dia mungkin merangkulmu hangat, esok hari, kamu bisa melihatnya bersama orang lain dan meninggalkanmu.

Hari itu, ketika bumi basah terguyur, hujan memisahkan kamu dengan dia. Dia berjalan menjauh dengan sebuah payung menghalanginya dari air mata langit, membelakangimu dan tak sekali pun melihat ke belakang. Dia yakin akan keputusanmu—lalu kamu masih menangis. Tetap menyalahkan takdir dan bertanya,

Buat apa harus bertemu kalau pada akhirnya kamu akan tetap menangis juga?

Seperti tangisan yang lalu-lalu, ketika kamu mengatakan bahwa hal seperti ini seharusnya membuatmu jera.

Sayang, kamu bahkan tidak sempat menyatakan perasaanmu yang perlahan kamu timbun dalam-dalam dengan jutaan pulasan senyum yang sayangnya tidak pernah nyata. Dia menghilang, dan kamu mencoba melupakannya. Kamu tersenyum di antara teman-temanmu seolah pertemuanmu dengan dia tidak pernah nyata, kamu tertawa di antara lelucon-lelucon picisan yang kamu utarakan sendiri, kamu bersenandung di antara lagu-lagu sedih yang kamu sering dengarkan di radio.

Tapi dinding hatimu tetap saja hancur ketika hujan turun.

Topengmu mungkin sempurna, tapi hatimu bahkan tak lebih kuat dari sepotong kayu yang rapuh karena lapuk. Setiap kali hujan turun, sang kayu semakin merapuh, begitu pun dengan kamu. Sayang, tangisan itu juga tidak bisa menolongmu.

“Aku mau pindah rumah, jauh sekali. Kamu nggak akan bisa bertemu denganku lagi.”
“Memangnya sejauh apa?”
“Kalau aku nggak menjawab, kamu tahu kan sejauh apa maksudku?”


Butiran hujan yang turun itu menyapu perasaan merah jambumu.

“Terima kasih untuk hujan di waktu-waktu sebelumnya, ya.”

Hujan yang turun dari puncak matamu mengawali hujan yang turun hari itu.

***


Kamu lupa kamu tetap menangis walaupun kamu menghalangi hujan dengan payung biru kelammu hari itu?

Padahal, pikirmu, selama kamu tidak melihatnya menangis kamu akan baik-baik saja. Kamu akan pergi sebelum dia menangis dan tidak sekali pun menengok, melihat matanya banjir oleh air asin. Faktanya, tanpa harus melihatnya menangis pun kamu tahu dia terisak begitu lama. Dia cuma diam melihat punggungmu yang bergerak menjauh, tapi kamu merasa isakannya masih terdengar bahkan setelah sosoknya tak terlihat lagi di balik punggungmu.

Mudah, pikirmu; begitu sulit, fakta menamparmu.

Padahal kamu sudah menjelaskan segalanya dengan sesederhana mungkin. Kamu akan segera pergi jauh dari gadis itu dan menghilang tak berbekas seperti ditelan bumi. Kamu tidak bisa memaksakan keinginanmu untuk bersamanya ketika kalian terpisah jarak—dia harus punya takdir yang lebih baik, pikirmu. Nalarmu sempurna, tapi hatimu tetap saja egois. Separuh sisi tak sadarmu ingin segera berbalik dan merengkuhnya dalam pelukan dan menghentikan tangisnya; sayang, sisi sadarmu yang lain tetap melarang. Kamu merutuk ditengah guyuran hujan, tapi siapa yang mendengar?

Dunia tak punya jutaan telinga untuk mendengar ocehan manusia satu per satu.

Lalu kamu mendengus dalam senyum asimetrimu. Kedua matamu terpejam menghentikan aliran kristal dari puncak matamu sementara kedua tungkaimu mengambil langkah maju. Kamu tidak mundur, tidak mengejarnya dan mengucap maaf di depannya. Kamu mengucap maaf dalam bisikmu, menyisipkan doa supaya suatu hari nanti satu dari ocehanmu didengarkan oleh dunia.

Dibandingkan pertemuan-pertemuan penuh tawa sebelumnya, perpisahan dan tangisan di bawah hujan ini—kamu sadari—lebih menyiksamu. Kamu tidak lupa dengan semua kebahagiaan yang kamu dapat di setiap pertemuan itu sebelumnya, tapi bayang-bayang hujan sejak itu selalu mengingatkanmu bahwa perpisahan itu menyakitkan.

Karena kamu berpikir kamu bisa lupa padahal kamu selalu ingat.

***


Kamu tidak ingat hari itu hujan membawamu kembali pada masa lalu yang selalu terikat pada masa depanmu?

Tidak, kamu tidak ingat. Malam itu hujan salju, bukan hujan seperti yang selama ini kamu tangisi. Dinginnya membekukan, tapi tidak menyiksa. Kamu berjalan dengan sebuah payung cokelat yang ditutupi butir-butir putih salju, seluruh wajahmu merah menahan dingin. Sudah lima tahun, dan kamu tampak baik-baik saja.

Tampaknya.

Padahal hatimu masih luka dan nganga yang ada di sana membekas permanen. Perpisahan tanpa dugaan dan alasan yang membuatmu percaya nampaknya selalu menjadi alibimu untuk tidak pernah lupa. Dia, yang kamu temui saat hujan, yang juga meninggalkanmu saat hujan, meninggalkan bayangan yang menempati ruang menyakitkan. Dia tidak ada di dalam hatimu, tapi tidak juga di luarnya. Dia berdiri di antaranya, yang membuatmu tidak tahu bagaimana harus melangkah maju.

Sepatu boots-mu mulai diberatkan oleh salju yang menggunung. Kamu tidak peduli, tetap berjalan menatap jalan yang seluruhnya putih sementara tangan kanan mengenggam erat tangkai payungmu yang juga semakin berat. Kamu semakin mahir menjadi gadis manis yang senang tersenyum menghindari realita pahit. Sayang, luka yang masih membekas belum membuatmu pulih.

Karena di dalam selipan doamu, selalu saja ada pertanyaan mengenai dia yang entah masih mengingatmu atau tidak. Kamu tetap mendoakan keselamatannya, kesehatannya, bahkan kebahagiaannya. Kamu tetap ingat gestur kecilnya saat tersenyum membicarakan hujan di kali pertama kamu dan dia bertemu, dan benakmu masih menyimpan segelintir ingatan mengenai punggungnya yang semakin menjauh ditelan hujan yang turun hari itu, mengulang-ngulangnya dalam kepalamu bak film rusak.

Dan air mata yang entah-sudah-berapa-banyak habis acapkali hujan turun.

Dan masih banyak lainnya yang membuatmu semakin terlihat kuat dalam kerapuhanmu.

Karena perlahan kamu semakin percaya bahwa mungkin kamu dan dia memang tidak akan pernah bertemu lagi walau hanya untuk bertukar senyum dan membicarakan hujan lagi. Semakin tinggi dinding itu dibangun, kamu poles dengan jutaan rasa perih yang tak ingin kamu ulangi lagi.

Tapi kamu yakin jantungmu berhenti berdegup walau hanya sebentar saat tatapanmu kembali melihat lurus ke depan.

He passes you by.

And it still hurts.


Tapi kamu tak punya kuasa untuk berhenti melangkah,

Seberat apa pun salju yang menggunung di sepatumu, ternyata kamu lebih takut untuk sakit dua kali.

Pernyataan cinta itu selamanya tertahan di kerongkonganmu, mengering seiring bergantinya musim.

So you pass him by.

In silence, you once say goodbye with a smile plastered right.

You don’t cry, because it’s not raining that day.

Snows coagulates everything and you say thanks to destiny, for the last meeting.

For the last rain represented by the blankets of snow.


***


Kamu ingat ketika hujan berhenti mempertemukanmu dengan dia?

Hari itu kesempatan terakhirmu, kamu tahu. Sudah lima tahun sejak kamu membuat luka itu, kamu paham. Tapi kamu masih bertanya, apakah kamu punya kesempatan? Karena saat kamu memiliki satu kesempatan lagi untuk memperbaikinya, takdir tidak merangkul mau pun meninggalkanmu.

Dia menertawakanmu dari satu sudut angkasa yang tak bisa kamu temukan keberadaannya.

Untuk semua air mata yang kamu picu, untuk semua hujan yang menghujam perih, untuk semua tawa yang berujung tangis di malam-malam pertama dia kehilangan. Ada satu hal yang kamu sadari setelah kejadian terakhir, kalau kamu memang pengecut. Kamu pelari hebat yang meninggalkan masalah dan luka di pundak gadis itu. Kamu terluka, memang benar. Di hari-hari pertama, kamu sempat menyalahkan dia yang terisak kamu tinggalkan, kamu jadikan dia alasan mengapa kamu turut menangis di bawah lindungan payung biru tuamu, memunggunginya.

Tapi kamu sadar betul kamulah orang paling jahat ketika kamu kembali melihat wajahnya yang tidak pernah sama lagi. Pipinya yang tembam kini tirus, tubuhnya terlihat hanya dibalut kulit yang dipondasikan tulang—berbeda dengan yang kamu tahu lima tahun lalu. Matanya sembap. Langkahnya gontai dan pikirannya entah berkeliaran di mana karena dia tidak melihatmu berjalan mendekat.

Kamu memang pengecut, karena kamu tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk memulai setelah mengakhiri. Karena kamu membiarkan dia melewatimu tanpa sedikit pun ingin mengenalimu lagi. Kesempatan kedua yang kamu impi-impikan hanyalah bayang-bayang semu, garis finish yang kamu tarik terlalu jauh jaraknya dari garis start yang ingin kamu tatap lagi.

Punggung kamu dan dia semakin membuat jarak, tapi bibirmu masih beku karena tidak tahu harus berucap apa. Kakimu berhenti melangkah, tapi kamu masih mendengar langkah diambil olehnya di belakangmu. Kamu menahan napasmu yang mulai tersengal panik, tidak mau kehilangan satu kesempatan lagi untuk memulai.

Sayang,

Ketika kamu menengok ke belakang, punggung dari tubuh kecil itu menghilang ditelan butiran-butiran salju; begitu pun dengan jejak-jejak dari tapak sepatu yang mulai kembali ditutupi salju. Hatimu mencelos, lalu kamu berpikir, mungkinkah ini perasaannya saat dia hanya melihat punggungmu pergi menjauh tanpa menoleh ke belakang? Mungkinkah ini yang menjadi alasan mengapa matanya terlihat begitu sembap?

Mungkinkah ini yang jadi tanda kalau kamu tidak patut berharap lagi?

Salju yang turun malam itu menandai perasaannya yang mulai membeku, dan payung merah marun yang kamu genggam menjadi saksi bisu pertemuan pertama dan terakhirmu dengan dia.

Udara dingin yang mengolok-olokmu turut menemani perasaanmu yang tertahan di kerongkongan, bersama dengan kesempatan yang kini menjadi cerita semu yang membuat luka besar tak tersembuhkan di rongga dadamu.

Goodbye, you whisper.

Unfortunately, she’s not listening.







Labels: , , ,



Posted by Taree @ 9:20 PM. 5 Comment .

5 Comments:

Blogger blog saya said...

kenapa payungnya harus merah marun? (langsung inget warna kebangsaannya sandy)
pamit duluan yaaa writer nim. mau beresin hati dulu yang berantakan..







sesusah itu yee ngomong... duh..

February 18, 2014 at 9:52 PM  
Blogger Snowledge said...

you know what?

<3

February 20, 2014 at 5:59 PM  
Blogger Tarinanda A. Putri said...

@teh syeril: karena... yang kepikiran merah marun! =)) #CETEK makasih sudah baca dan komentar :--D

@Anya: APAAAA =))=)) wakakak walau komennya singkat, tapi padat. Makasih udah baca <3

February 20, 2014 at 10:53 PM  
Anonymous eerhum said...

asik banget ini tar!

March 8, 2014 at 12:40 AM  
Blogger Tarinanda A. Putri said...

@kak Irham: Asik galaunya kale kaaaak haha makasih udah baca dan komen yaa :Db

April 20, 2014 at 9:31 PM  

Post a Comment




Rewind                     Home                     Fast Forward


Amigos

Arina Listyarini
Pradnya Emeralda
Zaskia Osya Denaya
Tante Inne Larasati
Shafira Anjani
Sista Tamara
Eka Wahyuni
Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here