Thursday, February 20, 2014

#247 The world’s in a hurry (our time has been stopped early)

The world’s in a hurry (our time has been stopped early)
~2.2k words
World war!AU, anonym characters
Note: written with puzzled (not-ordered) events.

(If the two of us meet by chance,
What kind of any other difficulties must have been surpassed?)



i.
Dia menanti seperti orang pesakitan. Tidak pernah satu waktu pun dilewatkan untuk duduk di atas sofa beludru usang menghadap pekarangan rumah dengan daun pintu terbuka lebar, menanti seseorang yang tidak pernah datang. Padahal ucapan selamat datang itu sudah tertahan di ujung kerongkongan, padahal pelukan itu sudah di ujung gerak jari yang dibungkam, tapi yang ditunggu belum juga sadar ada dia yang sedang menunggu. Atau memang sesulit ini dipisahkan oleh kewajiban karena realita yang membentang? Apa memang seburuk ini rasanya menunggu tanpa tahu perpisahan yang dialami adalah hal yang sifatnya temporer atau permanen?

Kursi reyot yang dia duduki kian lama kian panas. Dia tidak beranjak, bahkan ketika surya jingga mulai tercetak dari bingkai jendela berdasar mahoni. Wajahnya terlihat abai, terlihat kaku, terlihat biasa saja—padahal kekhawatiran itu memuncak dan tersimpan di balik cengkeraman telapak karena kedatangannya tidak bisa dipastikan. Semakin lama waktu berjalan tanpa kedatangannya mengucap sapa dengan kehidupan di genggaman, semakin besar opsi kematian dilintangkan. Ada sesal menyusup masuk, beraninya dia mengucap keberanian untuk menunggu, membiarkannya pergi tanpa tahu jelas kapan akan kembali. Beraninya dia memaksanya berjanji untuk pulang. Beraninya, beraninya, beraninya. Jika dia benar-benar tidak pulang, siapa yang patut dipersalahkan?

Ada perasaan bersalah yang menusuk-nusuk sebelum perempuan berwajah pucat itu bangkit, menyeret langkahnya untuk menutup pintu. Masih ada hari berikutnya, hari berikutnya, masih ada banyak kesempatan. Peluang menyempit, tapi keinginannya untuk menyerah dihentikan oleh palang panjang yang terbentang lurus-lurus. Dia teringat untuk harus tetap menunggu, untuk mengabaikan saja kemungkinan buruk yang paling banyak mengintai. Lelaki itu mungkin sekarang masih mengadu senjata, menyumpah serapah karena musuh sudah merenggut waktunya untuk berbahagia, atau malah berteriak kesakitan mendapati peluru menembus bahu. Kendati demikian, dia setengah mati mempertahankan kehidupannya yang nyaris terampas. Ini hanya masalah kewajiban, katanya di suatu pagi beberapa waktu sebelum kepergiannya ke medan berbahaya, semua orang bodoh di balik ini semua akan mati dan aku pasti pulang.

Maka dia, yang tengah menunggu, tak boleh termakan rayu busuk harapan yang mengering.


ii.
Pendamping hidupnya bisa pergi kapan saja. Harusnya sang wanita berparas ayu tahu, itu adalah konsekuensi dan risiko yang akan selalu dipikul kaumnya ketika mereka memutuskan untuk mengikat sebuah hubungan. Akan selalu ada perpisahan. Akan selalu ada maut mengintai. Senapan dan granat berbubuk mesiu tak akan dibiarkan usang selamanya. Mereka hidup di dunia yang penuh ironi, di mana manusia lebih senang mencari pemenang lewat permainan jagal nyawa semacam ini daripada menggunakan otak di dalam batok kepala masing-masing. Tak semua orang bodoh, tentu saja, tetapi jika perang sudah dicetuskan, siapa yang mau dengar orasi semacam ini? Mereka akan mati dengan kepala diledakkan sebelum menyelesaikan kalimat.

Tapi, lucunya, sang hawa tidak gentar.


“Aku bisa kembali menjadi prajurit kapan saja, kau pasti tahu.”

“Aku tahu. Lantas, apa itu akan jadi pemutus harapan kita?”

“Aku bisa mati ditembak bahkan sebelum mengangkat senjata, kau paham itu kan?”

“Dari jutaan kemungkinan itu, kau tetap punya kemungkinan pulang.”



Senja, waktu itu, dan adu argumen yang mereka mulai langsung berhasil membuat air mata menggunung di pelupuk mata sang wanita. Suaranya bahkan sudah bergetar sejak tadi, berusaha kokoh walaupun dia tidak rela barang sekalipun. Dusta kalau dia bilang dia tidak takut kehilangan, tapi melarang kepergian adam di hadapannya ini tidak akan menyelesaikan apapun. Belum, belum ada tanda-tanda kepergiannya, tetapi darah masih tumpah dan tangis kehilangan masih pecah di mana-mana, bukannya tidak mungkin namanya akan diteriakkan esok hari dari pengeras suara di alun-alun kecil desa yang sudah nyaris mati, menariknya masuk dalam lingkaran maut dengan hanya dua kemungkinan untuk dihadapi—hidup atau mati, menang atau kalah.

Sang lelaki tak pernah mau menjawab jika ditanya mengenai keyakinannya untuk menang.

“Kau wanita terkeras kepala yang pernah kukenal.”

“Aku akui itu.”

“Tapi karena itu juga jika memang aku harus pergi aku akan berusaha untuk pulang, hidup, walau harus terseok-seok.”


Tangis di pelupuk yang tertahan pecah, namun kemudian teredam oleh sebuah pelukan erat yang tak dilepas sampai matahari benar-benar tergelincir dari kaki langit, menyisakan langit biru gelap tak berawan.


iii.

Tidak ada mimpi buruk maupun pecah beling sebagai pertanda buruk ketika di tengah malam buta si wanita terbangun, mendapati sisi ranjang sebelahnya kosong menyisakan aroma yang dikenalnya. Degup pertama jantung yang mengusik langsung menuntunnya pada suatu bayangan di mana pengeras suara di pusat kegiatan desa berbunyi nyaring, menyebutkan nama-nama yang diminta maju menyumbang nyawa. Ada rinai air mata yang otomat menggenangi pipi tanpa disadari.

Padahal baru kemarin dia menyumpah untuk tidak menangis ketika waktunya tiba.

Padahal baru kemarin adu argumen itu berakhir dengan cara paling menenangkan yang pernah dia terima.

Padahal baru kemarin realita terlihat tak seburuk yang selalu dipikirkan.

Padahal ada kemungkinan lain mengapa sisi ranjangnya kosong malam itu, tapi yang muncul di otaknya adalah bayangan di mana sang lelaki berlarian menyusuri jalan setapak, menenteng senjata, hilang di balik kabut malam buta menantang maut yang tengah mengangkat dagu. Dia tidak siap—oh, katakan saja dia tidak akan pernah siap. Kehilangan bukanlah suatu hal yang bisa dipermainkan. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi padanya jika berita kematian suaminya sampai ke daun telinga? Dia bisa saja akan mengurung diri di dalam rumah berminggu-minggu, depresi, kemudian ditemukan oleh seseorang terbujur kaku karena tak mendapatkan nutrisi. Dia bisa saja akan tertawa seperti orang gila karena tidak percaya, lalu digeret ke rumah sakit jiwa untuk menjalani sisa kehidupannya di sana seperti tawanan. Dia mau menyalahkan dunia, tapi memangnya apa yang akan menjadi jawabannya?

Ada tapak yang kian lama kian terdengar jelas, kemudian tangisan yang semula akan berubah menjadi isakan tertahan. Lelaki yang tengah ditangisi berdiri tegap di balik daun pintu, menjinjing tas besar dengan sebuah senapan di tangan kanan, dijatuhkan. Sepatunya yang berlumpur menyisakan noda kotor di lantai usang rumah mereka.

“Mereka hanya membutuhkan sepuluh prajurit baru, kapten menyebutkan terlalu banyak nama.”


Perlu waktu lima detik lebih bagi sang wanita untuk menjeda sebelum tangisan itu kembali tumpah. Lega, khawatir, terancam—karena bagaimana pun, jelas, pada panggilan berikutnya suaminya akan benar-benar pergi. Atau mungkin tidak, tetapi kemungkinan yang terpatri padanya adalah demikian. Mereka tidak bisa selamat selamanya, berlindung sementara jutaan orang mati di luar sana, sia-sia. Jutaan wanita lain saat ini mungkin sedang menangis sampai mata mereka sembap, tak menyisakan air mata lagi. Katakan, apa dia adalah wanita selanjutnya yang akan bernasib sama?

“Katakan pada kaptenmu, istrimu hampir mati ditinggalkan tanpa pamit.”


Bungkam, sang hawa, ketika tubuhnya didekap hangat dan maaf berkali-kali dilancarkan.


iv.
Napas panjang yang diembuskan si lelaki hari itu adalah refleks yang muncul dari kegugupannya.

Pagi buta, ketika itu, dan dia membiarkan dirinya menatap kosong ke arah luar jendela disiram cahaya perak lunar. Terbayang titah mutlak sang kapten beberapa jam sebelumnya ketika seluruh calon prajurit dikumpulkan, diberitahu siapa saja yang akan berangkat menuju medan pertempuran sebelum matahari terbit. Tepat seperti ekspektasi, namanya disebutkan paling awal. Lantang, tak pernah ada ralat setelahnya. Ini waktunya.

“Aku sudah berjanji akan pulang, kau tak perlu khawatir.”

“Aku tahu.”


Ada jeda cukup lama yang membuat desir angin terdengar lebih nyaring dari apapun, tapi kemudian si lelaki memutar tubuhnya, menghadap istrinya dengan pandangan yang terarah lurus-lurus pada sepasang cokelat bening bak cermin dari iris matanya. Kedua tangannya mencengkram bahu mungil si wanita yang kini diam tanpa ekspresi, tetap menyampaikan argumen, padahal nyatanya dia sedang ketakutan. Takut mati.

“...Maafkan aku.”


Biner cokelat bening itu membalas tatapan dengan lembut, disusul dengan senyum tipis yang kemudian terpulas pada paras. Tak ada air mata menggenang, tak terdengar isakan, tak ada kalimat larangan, tak ada paksaan untuk munculnya harapan. Wanita itu pasrah, tak berdaya. Dia bukan siapa-siapa dalam permainan ini sejak awal. Dia hanya korban, dan suaminya hanya pion.

“Katakan pada kaptenmu jutaan wanita menunggu suami mereka kembali.”


Pelukan lainnya. Begitu erat, begitu lama. Ucapan perpisahan dan pesan yang dititipkan berulang dirapal bak mantra, tak rela melepas satu sama lain. Satu kecupan singkat didaratkan di kening sebelum si lelaki bergegas menyusuri jalan setapak menuju tempatnya bertaruh nasib. Punggungnya ditelan kabut tebal dengan begitu cepat, seolah-olah kematian memang menginginkannya segera.

Wanita itu tidak menangis, tapi tak ada seorang pun yang tahu sakit di dada yang dia alami pasca kecupan di keningnya dan punggung si lelaki yang hilang ditelan kabut—salam perpisahan yang tak terlisan.


v.
Dulu, dunia terlalu buru-buru memisahkan mereka. Begitu banyaknya perpecahan dan tindakan tak berlandaskan pemikiran rasional memaksa satu dari mereka untuk bertaruh nyawa di antara letusan senjata api dan desing peluru. Satu dari mereka harus bertahan untuk tidak gila di tengah penantian, tak pernah mendapatkan kejelasan apakah penantiannya akan berakhir atau tidak. Ratusan prajurit mati setiap harinya, bau amis di baju-baju mereka yang tertembak menjadi saksi betapa sulitnya menjaga nyawa. Padahal bukan mereka yang salah, padahal dunia ini sedang bermain-main dengan mereka—mencari tahu siapa yang mau saja masuk perangkap dan siapa yang harus pasrah dijadikan pion—sayang, permainan itu akhirnya usai. Sulit menghentikan tangis dari mereka yang kehilangan, tapi mendengar napas lega lolos dari mereka yang khawatir setengah mati terkadang bisa jadi penawar. Yang mati dianggap mati mulia, mau menukar nyawa sebelum keputusan ini diciptakan. Yang hidup dinobatkan sebagai pejuang bernyali baja, masih bisa membela negara sambil terus menjaga keselamatan demi mereka-mereka yang menanti di balik bilik rumah masing-masing.

Tangisan sang wanita akhirnya tak terdengar lagi. Kepulangan suaminya dalam keadaan selamat adalah permintaan terbesarnya yang pernah dikabulkan. Jutaan wanita sepertinya terisak mendapatkan kabar kehilangan, dan dia adalah satu dari jutaan yang mendapatkan nasib berbeda. Egois, tapi dia tidak sama sekali memikirkan orang lain ketika sang lelaki membuka kenop pintu dengan begitu tenang, memulas senyum, mengatakan bahwa pakta damai telah tercipta dan tetap menggenggam nyawa yang berpuluh hari mati-matian dijaga untuk sebuah titipan janji.

Wanita itu tak pernah lagi menangis sampai penghujung hidupnya.


vi.
Senja lainnya dengan siraman jingga mencolok mata menembus kaca jendela yang ditutupi gorden berenda, senja lainnya dengan kursi reyot tua tetap diduduki seorang wanita kurus kering, menerawang jauh ke arah jalan setapak di depan rumahnya yang terlihat buram dari pandangannya. Jika di awal-awal penantian tangis itu selalu tak tertahan, maka akhir-akhir ini air matanya justru kering. Mungkin kelenjar air matanya lelah menangisi sesuatu yang tak pernah datang, mungkin juga perasaan sang wanita sudah nyaris mati karena terlalu lama dibiarkan menggantung tanpa kejelasan apakah dia menunggu seseorang yang masih hidup atau tidak. Ciap burung sempat mendominasi hening sebelum kemudian menghilang, digantikan dengan suara gemerisik daun dari pohon maple yang tumbuh di pekarangan rumah, yang kini dikotori daun-daun kering yang rontok dari dahan. Dia tidak berminat untuk mengurusinya karena terlalu sibuk menunggu.

Kelopak mata dikatupkan tanpa sengaja, menyisakan kantung hitam di bawahnya, tanda lelah yang amat sangat, mungkin gambaran kerinduan yang ditumpuk karena ditinggalkan. Senja yang tenang, karena pada faktanya hari itu tak satupun suara tembakan terdengar, tak satupun kabar dikumandangkan dari pengeras suara di alun-alun desa, pula tak satupun terdengar isakan maupun teriakan histeris dari rumah-rumah yang mengitari tempatnya bernaung. Senja yang damai, hingga tanpa sadar begitu lelap ketidaksadaran menelannya lebih dalam sampai sang surya menghilang digantikan kerlip bintang di langit tak berawan.

Ada jari tengah yang diketukkan ke mahoni pintu tak lama kemudian, membangunkan dia yang begitu lelah terlalu lama menunggu. Membesarlah iris itu, melihat sosok yang kini kembali walau keadaannya jauh dari baik-baik saja. Bahu kanannya dibebat perban, ada satu-dua bercak darah yang masih merembes, bekas ditembus peluru musuh. Wajahnya gelap bukan main—kotor, beberapa waktu ditundukkan ke tanah atau terkena asap serangan musuh. Ada satu luka di pipi kiri, serupa sayatan benda tajam yang diakuinya sebagai sentuhan kecil dari peluru yang meleset diarahkan ke dahi.

Kendati demikian, dia hidup. Harapan yang redup itu menyala terang seperti lilin yang sumbunya disulut, dan tak satupun tanya berhasil dilempar karena mereka terlalu sibuk memastikan apakah itu adalah delusi atau bukan. Belum sempat sang wanita bangkit dari tempatnya, sang lelaki sudah terburu melempar ransel militernya dan menyambar tubuh istrinya untuk dipeluk. Kata-kata yang telah dipersiapkan menguap tak tersampaikan. Tanya yang berjejalan hilang sekali kedipan. Mereka membuang semua beban dan dada mereka kini lapang sudah, tak menyisakan apa-apa selain ucapan `aku pulang` dan `selamat datang` yang meluncur berkali-kali.

“Kupikir kau akan menungguku alih-alih tertidur pulas seperti tadi,”


Guyon yang dilemparkan sang lelaki mau tak mau membuat istrinya merengut sebal, tak ada jawaban apapun diberikan ketika sang wanita berjalan perlahan-lahan untuk menutup pintu dengan rapat karena penantiannya telah selesai. Dia tak pernah mau menggantungkan nasib pada harapan, tapi sekali waktu dia melakukannya dan harapannya terkabul. Jika itu mengharuskannya untuk berhenti membuat harapan sampai beberapa tahun lagi, dia akan menyanggupi.

“Itu adalah tidur pertamaku setelah dua hari terakhir, bodoh.”


Tidak heran, si lelaki. Dia sendiri lebih sering menghabiskan waktu di dalam barak untuk membayangkan air muka istrinya alih-alih menggunakannya untuk beristirahat barang beberapa jam saja. Membawa bayang-bayang itu ketika senjata diadu dan peluru dimuntahkan. Menyimpan janji untuk pulang di dekat nadi sebagai taruhan yang berat untuk terus menjaga diri.

“Aku mau lanjutkan tidurnya, tapi kau harus mandi dulu. Nanti setelah perbannya kuganti, kau berutang sebuah cerita yang harus membuat tidurku pulas.”


Untung kau kembali, aku hampir mengira kau mati ditembak atau ditawan, aku tak bisa membayangkan suara kaptenmu mengumumkan kematianmu, dan jutaan kalimat yang sudah ada di ujung lidah itu tertelan kembali ke ujung saluran tenggorokan, dibiarkan di sana sampai hilang dengan sendirinya. Dia hidup, dan itulah yang paling penting. Harapan yang nyaris redup sudah menyala terang, itu yang paling dia pedulikan.

Dia merengkuh belikat si lelaki dengan manja, membiarkan bayangan mereka berdua terlihat jelas dari balik sinar bulan yang baru muncul dari balik awan dan debu di sudut angkasa.

(There’s nothing to worry,
Time won’t lead us apart.)


-----------------------------------------

all lyrics credit to ONE OK ROCK's My Sweet Baby.
nyampah banget (................) nggak kuat buat nggak nulis karena idenya lagi adaan. Uhuhu /////

Labels: , , ,



Posted by Taree @ 10:51 PM. 0 Comment .

0 Comments:

Post a Comment




Rewind                     Home                     Fast Forward


Amigos

Arina Listyarini
Pradnya Emeralda
Zaskia Osya Denaya
Tante Inne Larasati
Shafira Anjani
Sista Tamara
Eka Wahyuni
Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here