Tuesday, December 30, 2014
#290 9 "big" things I've done this year
Sejujurnya: 2014 is my productive year. Produktif dalam arti kata literal produktif; alias saya "kejar setoran" pengalaman tahun ini dengan nyobain banyak hal dan gak mikir panjang pada konsekuensi. Awalnya, as a melancholic type, high worry approached like hell. In the end, give and take-nya oke banget. Dengan kata lain, saya nggak nyesal sama sekali membuat tahun 2014 menjadi tahun terproduktif di umur yang udah berkepala dua.Soooo, berhubung ini lagi gak mobile banget dan nggak tahu mau pakai gambar apa untuk mewakili review yang ini... let's go.
Saya ngerasa saya dapet pelarian yang oke banget tahun ini ketika stres--nonton film. Saya nggak paham tapi tahun ini harddisk external saya sampai saya bersihin dari file2 lama demi nyimpen file2 film baru. Bukan drama lho ya, film. Means sebenarnya saya mendapatkan banyak plot dan sudut pandang yang bermacam-macam dari jumlah film yang sudah saya tonton. Kalau mau tahu yang saya suka sudah ada reviewnya kan di post sebelum-sebelum ini. Oh iya. Dari hobi baru saya ini (kalau boleh disebut hobi ya...) saya juga ngerasa lebih open-minded dan santai ngejalanin hidup
5. Guitar
Malu banget nyantumin ini karena sebenarnya belajarnya baru banget dan saya juga belum menguasai chord-chord dasarnya untuk mainin lagu2. Sebenarnya niat belajar gitar ini tuh udah lama banget dari tahun lalu kalau gak salah, waktu saya ke Cimahi ngebetulin gitar sambil cari tas-nya. Tapi... ya gitu, wacana. Sudah selang nyaris setahun baru saya ada chance buat belajar dari temen yang sudah bisa dan lagi belajar juga. And it's fun. Sooo much fun. Like, you create your own music and lead yourself to sing over it. Saya cuma bisa mainin satu lagu: Lost Stars-nya Adam Levine. Itu pun karena chord-nya gampang (gaya....). Pengen deh upload hasil ngegitar itu sambil nyanyi tapi have no guts enough heuheu
6. I can go home after 6 PM!
A6. Ini tuh salah satu hal yang patut saya banggakan setelah tiga tahun nyangkut di Jatinagor buat kuliah. Saya dulunya gak pernah berani udah gelap gitu di luar rumah; boro-boro Jatinangor--tempat deket aja saya gak berani kalau sendirian. Nah, karena berbagai tuntutan, salah satunya adalah deskripsi nomor pertama, saya mau gak mau harus belajar membuat pilihan sendiri di luar pilihan yang ada; karena sesungguhnya saya paham saya ingin pulang ke rumah walaupun jam bus udah kelar (bus yang ngangkut saya pulang jam terakhirnya jam 6 sore), tapi juga nggak bakal maksain kalau kegiatannya emang separah saya harus pulang jam 9 atau 10 malam. Jadilah, saya memutuskan untuk nyoba pulang naik travel. And it works out. Sekarang jadi gak terlalu heboh kalo harus pulang malem =)) *NORAK*
7. Itu lho...
Nyebutnya ogah. Hahaha. Intinya, I had this thing for so damnnnn many years and I couldn't let it go until this August. This so-called-heart-related-feelings yang nyiksa akhirnya udah saya lepas dan saya buang jauh-jauh untuk kesejahteraan saya pribadi because I know I can't go on like this forever because life, too, goes on. Sedinamis itu hidup dan saya nggak mau jadi satu-satunya manusia statis. There it went, emang perih sih but I did it. Tinggal jadiin cerita, ra popo lah. Asal saya gak kesiksa terus kayak yang kemarin-kemarin. I have to start my new own story, toh.
8. Writing
PEDE JAYA TJOI. Gak ding. Saya ngerasa saya lebih kreatif dalam menulis tahun ini, setelah saya lihat-lihat post-post tulisan fiksi saya ke belakang. Gak dilihat dari kualitasnya aja, tapi secara kuantitas saya merasa lebih produktif menulis tahun ini dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya juga ngerasa dapet banyak dukungan moril dari setiap-setiap orang yang baca dan akhirnya jadi terdorong terus buat ekspresiin ide-ide aneh di kepala saya yang gabisa saya ungkapin selain dengan cara ditulis. Well well, not to mention but if you haven't read any single of them, you can try on. Saya nggak sediain kresek kalau mau muntah tapi.... *HEH*
9. I wear jilbab now
I almost forget to write about this.... padahal sebenarnya ini lebih bermakna dan lebih terkesan "big" daripada yang lain.. tapi gak apa lah ya untung masih inget. I don't know, I can't remember really well, but, at day on June, saya tiba-tiba merasa terpikir kalau saya sudah harus menggunakan jilbab. Pertamanya lewat mimpi; then karena saya emang orangnya die-hard thinker akhirnya kepikiran terus dan sebagainya sampai akhirnya saya ngerasa bener-bener terpanggil untuk berjilbab. Anyway, di antara temen-temen yang lain, saya tergolong yang paling telat dapet "panggilan" sampe mereka seheboh itu waktu tahu saya berjilbab betulan. Lupa jelasnya, tapi seinget saya saya mulai pake jilbab beberapa saat setelah saya ulang tahun, which is pas liburan, makanya yang pertama kali lihat saya berjilbab ya rekan-rekan divisi observasi di PMB waktu itu. Semoga dengan pake jilbab ini keimanan saya menebal dan bisa terus bisa memperdalam kekuatan spiritual dalam beragama. Aaamiin.



0 Comments:
Post a Comment