Sunday, January 17, 2016

#336 [edited! review] Reply 1988 / Answer Me 1988 / 응답하라 1988




Saya butuh niat dan mood yang sangat besar untuk ngepost review ini karena jujur aja sampai sekarang baper-nya masih kentel dan saya nggak tahu kapan saya bisa balik menjalani kehidupan biasa tanpa apdetan drama ini setiap minggu; persis seperti hidup saya waktu Reply 1997 dan Reply 1994 tayang. Honestly, drama ini justru meninggalkan efek samping yang lebih parah daripada 2 seri sebelumnya. I'll tell you why. But before that, I'll give you a warning that this post may contain spoilers and be ended up damn very long, karena saya sebagai penonton dan fans bakalan sulit mengontrol apa yang bakalan muncul di post. Yang belum nonton drama ini dan berniat mungkin bisa mempertimbangkan barangkali POV kalian nanti terganggu gegara review saya #plak. Tapi saya berusaha semaksimal mungkin untuk tetap objektif dalam memberikan review, kok. Mungkin ini sebagai bagian dari penumpahan uneg-uneg saya juga soal banyaknya pendapat mengenai drama ini, utamanya ending dan plot yang berliku-liku (wakaka). We'll start, shall we?


Okay. Jadi, drama ini mainly berkisah tentang sekumpulan keluarga yang tinggal di sebuah blok/tempat pemukiman kecil di Seoul, named Ssangmundong. Ada 5 keluarga major yang menjadi karakter-karakter utama dengan masing-masing penceritaan yang berbeda. Ada keluarga Sung yang diceritakan miskin/paling kekurangan, tinggal di rumah semi-basement, tepat di bawah rumahnya keluarga Kim yang kaya raya. Ada keluarga Yoo yang kurang diceritakan, juga keluarga single parents yaitu ayahnya Taek dan ibunya Sunwoo. Nah, diceritakan kelima pemeran utama dengan umur sebaya, yaitu Seong Deokseon, Kim Junghwan, Choi Taek, Yoo Dongryeong, dan Seong Sunwoo. Karena mereka tinggal di Ssangmundong sejak kecil jadi mereka sedeket itu sampai mereka SMA (diceritakan mereka umur 18 di awal cerita). Cerita di Reply 1988 ini menurut saya bener-bener genuine dan sangat berbeda dari Reply series sebelumnya, tetapi tetap berada pada bungkusan "khas" Reply yang tetap nonjok dan sangat sehari-hari. Kalau di Reply sebelum-sebelumnya kita akan difokuskan pada first love story atau husband hunt, di Reply 1988 ini saya merasa sangat difokuskan untuk plot keluarga dan Ssangmundong Families yang sangat heartwarming. Selain itu, plot lain yang menurut saya terasa sangat heartwarming adalah plot mengenai friendship yang--entah, menurut saya ideal banget. Mungkin karena zaman sekarang nggak ada yang bisa sebegitunya lagi hidup bertetangga.

Saya akan skip cerita mengenai 20 episode dan langsung masuk ke opini saya tentang drama ini ya. We'll start from positive views to negative views ya.


Positive Views

1. Shin PD kept his promise! Saya masih ingat saya agak ketakutan nonton Reply lagi setelah patah hati sedalam-dalamnya pada plot Reply 1994 yang menurut saya masih agak raw dan kurang nendang. Waktu info tentang Reply 1988 ini keluar awal taun lalu, yang kepikiran di kepala saya adalah apakah PD-nim akan sejahat itu dan se-troll itu lagi seperti apa yang saya rasain waktu ngikutin Reply 1994 even if he said this drama would mainly focus on family lines. BUT HE KEPT HIS WORDS. And I love it. Dari kedua Reply yang sudah saya tonton, Reply 1988 adalah seri yang membuat saya menonton tanpa benar-benar terlalu memikirkan love story dari pada leads'. Setiap episode dikisahkan dengan matang dan (SUMPAHNYA) tearjerking. I'm talking about family plot, duh. Dari episode 1 aja saya udah kayak anak kecil yang cengeng karena udah sesenggukan jelek karena skrip dan alur ceritanya yang sangat, sangat keluarga. Saya bisa ngerasain POV dari setiap karakter di sini. Mulai dari jadi anak pertama, anak tengah, anak terakhir di keluarga Sung dan Kim; jadi anak yang bener-bener cuma mikirin Ibu/Ayah aja kayak Sunwoo & Taek, bahkan jadi anak yang ditinggalin keluarga karena kesibukan masing-masing... I can feel real deep each character developing every episode. Dan seperti biasa, wrapping-up drama ini tuh selalu dimulai dari premis sederhana yang sebenarnya nggak terlalu wah dan sering kejadian sehari-hari malah. Misal: sister quarrels. (ngakak). Daebak. I'd give more than five stars if I could for the success of the whole family storyline.

Saya rasa, feels yang paling nggak bisa ditolak dan triggering banget parah itu memang cerita keluarga di episode 19 dan 20; karena dari sekian banyak cerita keluarga yang ada, yang bikin saya nggak bisa nggak banjir air mata selain episode 1 adalah episode 19 dan 20. Episode 19 bikin saya nggak tahan karena cerita menopause-nya Ra Cheetah dan pensiunnya Dong Il, apalagi klimaks di perayaan ultahnya Ra Cheetah dan pemberian plakat buat Dong Il dari anak-anaknya. It's super sensitive for me and I can't deny that it is probably the climax part of the family story. Di episode 20, kelihatan yang paling parah saat orang tua melepaskan anaknya menikah, terutama hubungan ayah-anak Dong Il dan Bora yang selama ini kelihatan kurang akrab. They had to exhange letters to express each other's feelings, and somewhat it's hurtful and beautiful at the same time. Saya merasa pembungkusan episode terakhir yang ((terkesan)) kurang enak di lovelines disebabkan karena staff dan produser berfokus pada wrapping-up family stories-nya. And eventhough it's missing some parts still, it's beautiful and memorable still. Thank you so much.


2. Great character development. Nggak semua karakter dapetin ini, tapi buatku karena Reply 1988 ini berkisah tentang pertemanan dalam jumlah yang lumayan besar--waenyeol, 5 orang--jadinya kelihatan jelas perkembangannya di masing-masing hubungan antar karakter. Menurut saya, perkembangan karakter yang paling jelas dari semua karakter di sini adalah perkembangan Seong Bora dan Choi Taek. Masih ingatkah heartless Bora, yang ngomongnya nggak pernah halus dan super galak sama semua orang dari episode pertama, tapi kemudian mulai luluh saat pacaran sama Sunwoo dan berakhir menjadi karakter yang menurut saya role-model banget. The thing is, she has an iron heart. Sekalipun dia keliatan keras dan heartless, dia tetap anak pertama yang memiliki 'pikulan' di pundak dan pikiran mengenai orang lain. Saya masih ingat betapa nangisnya saya ketika di episode tengah-tengah menjelang akhir pada akhirnya Bora bisa mengejar cita-citanya untuk masuk jurusan hukum setelah struggling di jurusan pendidikan matematika karena dia dapetnya beasiswa di situ..... it's very touching. Sebenernya scene Bora yang paling bikin saya rontok itu waktu Deokseon dateng ke tempatnya belajar buat tes ulang yang super kecil, sampai Deokseon nangis bombay dan meluk Bora saking dia sedihnya ternyata selama ini Bora hidup 'sekeras' itu jauh dari rumah, tapi Bora cuma senyum-senyum dan bales meluk Deokseon seolah-olah apa yang dia alami bukan apa-apa. Goddamn, saya stres banget di situ karena Bora tuh kayak ibaratnya anak ayam yang baru menetas dari telur, baru kelihatan bentuk dan tampilan aslinya. A role model. Real role model. Deokseon must be so proud having her as her sister.

Untuk Choi Taek (ehem) (calling all #TeamTaek all over the cyber world), saya ingin applause banget untuk PD-nim yang bisa bikin karakter yang awalnya kayak debu (YES I THOUGHT HE'D END UP BEING DUMB LIKE WHEN HE FIRST APPEARED) berakhir jadi karakter yang super adorable dan dewasa.  Choi Taek adalah karakter yang menurut saya sangat memorable dan bisa diibaratkan sebagai bom atom wakakaka. Perkembangan karakter Taek menurut saya dimulai pada saat dia mulai sadar dia suka sama Deokseon di episode 6, disusul dengan perkembangan di plot keluarga dan sebagainya. Di balik karakter polos nan bodoh walaupun Baduk genius (....) itu, saya rasa Taek punya karakter yang sangat dewasa dan understanding. Dia dikisahkan sebagai anak piatu yang tinggal berdua dengan ayahnya, dan di tengah ceita ayahnya merasa mulai memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan orang baru (which is replacing her eomma), yaitu sama ibunya Sunwoo. Ini adalah plot yang sangat rumit dan susah, mungkin akan digambarkan lewat POV Sunwoo yang awalnya susah menerima karena merasa bersalah dengan almarhum ayahnya, tapi Taek bisa menerima ini dengan sangat dewasa dan open-hearted. Saya masih ingat scene yang bikin saya pecah berkeping-keping dari sekian banyak scene Taek dan ayahnya:






Aku nangis wakakaka. Taek's such a precious son he always thinks of his father ever since his mom passed away. Saya juga masih inget ada convo-nya Taek dengan Sunwoo yang bilang kalau saat dia sibuk tanding/latihan baduk, ayahnya sering cuma makan pakai nasi dingin, dan dengan ibunya Sunwoo ayahnya bisa makan hangat dan ada teman berbicara, and how it makes him so happy. Di balik tampang dan kelakuannya yang nggak bisa dipahami lagi bodohnya (who else unable to tie their shoelaces at the age of 18!??!?!?! only Choi Sabeom!!!!), he's a mature and open-hearted person. Soal perkembangan karakter dia di hubungan romance dengan Deokseon bakal saya jelasin terpisah karena ini akan jadi topik hot semua kalangan, because I'm not opposed the ship. Saya adalah satu lawan jutaan orang yang berpikir Taek dan Deokseon ended up together is a fair decision. : p


3. (In my opinion), disregard of what people thinks, PD-nim bisa lebih dewasa dalam menindaklanjuti cerita bersama perkembangan karakternya. Kalau di Reply 1994 kemarin saya kecewa karena ada ketidakkonsistenan plot yang berakhir nggak memuaskan, di Reply 1988 ini saya adalah satu orang yang puas karena menganggap pemikiran pd-nim dan scriptwriter sangat logis dan masuk akal untuk menentukan setiap ending cerita. Terlepas dari banyak miss-nya, saya berusaha memahami setiap point of view (utamanya di triangle love plot) dan paham apa yang sedang disampaikan oleh pd-nim dan scriptwriter. Kejahatan pada karakter tertentu not included, karena akan saja jelasin di bagian negative views : p



Negative Views

1. They screwed up Kim Junghwan's love story in such a pity way!??!?! Untuk ukuran penonton yang berusaha netral dan menerima siapapun yang akan menjadi suami Deokseon di masa depan karena saya tahu dia akan bahagia baik itu sama Junghwan maupun Taek, saya agak kesal dan kecewa karena karakter Junghwan terlihat seperti disia-siakan, apalagi di episode terakhir. Mungkin kejam, tapi malah kelihatannya tampak seperti pembunuhan karakter. For such great and manly character, he deserves something better than continuing life in Sacheon until the end of the story. Saya juga kesal karena di akhir cerita confession Junghwan dianggap jokes oleh teman-temannya (walau dalam hati kayaknya saya mikir Deokseon tahu itu bukan gobaek boongan). At least menurut saya Deokseon perlu tahu Junghwan bener-bener suka sama dia dan sudah menuangkan effort yang sangat besar walaupun ketutupan sama sifat tsundere-nya yang Masha Allah keterlaluan tebelnya.... karena in the end the one who decides is Deokseon herself, no? Dia sendiri yang akan sadar siapa yang ingin dia jadikan pendamping, not only friend. Selain soal love story, saya juga menyesali zoom out-nya kehidupan Junghwan dan Dongryeong setelah tahun 1994-1995. At least they tell us about their lives too. Such a pity that Junghwan and Dongryeong got less attention in the end when in fact so many people like their characters.


2. PD-nim dan staff kelihatan nggak siap untuk membungkus drama family ini dengan plot romance yang oh-so-reply kayak reply sebelum-sebelumnya. Banyak banget scene yang nggak konsisten, salah satunya pergantian past-future-past shoots yang membingungkan banyak pihak. Kalian sendiri yang udah nonton pasti sadar dong di awal-awal cerita future husband-nya Deokseon tuh lebih mirip Junghwan atau Sunwoo, tapi lama-lama imagenya jadi berubah jadi Taek karena in the end (I assume) she ended up with him. Sekalipun keputusan ini berbasis pada perkembangan plot dalam episode-episode yang tayang, saya pikir penting untuk tetap memastikan kekonsistenan apa yang sudah diberikan pada penonton dan apa yang belum. Saya nggak heran sih banyak yang misuh-misuh gara-gara ini, utamanya teamjunghwan yang sudah yakin kalau nampyeon-nya Deokseon adalah Junghwan, bukan Taek. Karena saya tidak menentang siapapun yang jadi suami Deokseon, saya lebih memfokuskan obrolan ini pada kurang siapnya produksi soal kematangan husband-guessing thing. Saya akan lebih respect kalau di drama ini nggak ada husband-guessing sama sekali, karena toh PD-nim sudah menegaskan kalau dramanya akan mainly talking about family. Ini saya bicarakan karena entah mengapa yang saya dapatkan adalah banyak orang yang malah jadi nggak respect sama drama ini cuma karena lovestory-nya. Sayang banget. This drama deserves lots of love, you know. It's more than just teenage love stories.

3. Fast-forward timeline di akhir cerita menurut saya kurang bijak dilakukan. Saya pikir ini keputusan tiba-tiba karena pihak produksi kebablasan (???) nyeritain family-nya sementara plot cinta jadi terbengkalai. Padahal menurut saya akan banyak yang terjadi juga toh selama 1989-1994 yang entah mengapa terkesan di-skip gitu aja. Keputusan ini memunculkan spekulasi kalau ceritanya jadi tiba-tiba lompat, padahal di 1989 itu puncak-puncaknya masa muda mereka, saya pikir banyak momen yang oke kalau diceritakan detil, tapi apalah daya, jumlah episode hanya 20 dan cerita slow-paced yang muncul dari episode 1-16 justru jadi bumerang sendiri buat perkembangan plot cinta para leads.


That's it! Tapi sebelum saya tutup postnya, saya mau coba ikutan ngebahas tentang topik hot drama ini yang belakangan bikin #teamjunghwan dan #teamtaek berantem: husband-guessing! (JENGJENGJENG)

Kemarin-kemarin beberapa hari saya udah ngoceh-ngoceh tetapi saya rasa nggak afdol kalau saya nggak mengabadikan betapa ribetnya isi pikiran saya di blog soal topik hot satu ini. Beware, mungkin kalian bakal sebel atau kesel sama saya karena pemikiran saya yang mungkin beda dari pemikiran orang kebanyakan, but I just want you all to know.

Honestly, sejak hati saya rontok gegara Reply 1994, saya selalu berusaha untuk netral dan nggak mengedepankan shipping-shipping-an lagi di seri Reply yang ini. And it worked! Sampai dekat-dekat akhir episode, sekalipun saya deg-degan siapa yang bakal jadi sama Deokseon, saya nggak berkeras hati kayak di reply sebelum-sebelumnya. Menurut saya, perkembangan plot dua male leads di sini sama-sama keren dan in the end siapapun yang jadi sama Deokseon bakalan bisa bikin dia bahagia, apapun caranya. Mungkin Junghwan dengan cara tsundere-nya, atau Taek dengan kepolosan dan kedodolannya yang aneh (.....)

Tapi. Apakah saya satu-satunya yang senang kalau Deokseon pada akhirnya sama Taek? Nggak sendiri sih. Tapi saya lihat banyaaaaak banget yang bener-bener mencak-mencak sama dramanya (hanya) karena their ship didn't end up together. Despite missing things I've explained before, saya pikir keputusan menjadikan Taek sebagai husband-nya Deokseon adalah keputusan yang bijak. Want to know my thoughts?

1. Saya adalah pendukung Junghwan di episode-episode awal, tapi saya sedih banget kenapa sampai late episode 15-16 Junghwan nggak bergerak untuk menyatakan perasaannya sama Deokseon. Dia tsundere, oke, (he's a classy tsundere btw) tapi menurut saya kelewatan banget itu sudah lewat separuh plot dan dia nggak melakukan apapun sama Deokseon. Meanwhile, dari POV Deokseon pun dia nggak tahu Junghwan sebenernya suka sama dia apa enggak despite the hints he's been showing. Bahkan ketika Deokseon kelihatan menunjukkan gelagat "membuka diri", Junghwan malah mundur karena in-plot dia menghargai Taek yang ketahuan suka juga sama Deokseon di episode 9. Nyatanya, kalau Junghwan nggak tsundere sejak awal kemungkinannya untuk jadi suami Deokseon lebih besar dan masuk akal. He's such an angel that he wants to protect his friend so much (in this case, Taek) he sacrifices his own feelings. Jadi, menurut saya, pendapat beberapa orang tentang nggak fair-nya PD-nim after all these clues; kemeja, junghwan nungguin depan rumah, melindungi Deoksen di bus, jemput Deokseon malem-malem bawain payung; menurut saya nggak valid. Kenapa nggak valid? Karena pada akhirnya yang menentukan perasaannya sendiri adalah Deokseon, dan Deokseon sendiri sebenernya bingung dia suka sama siapa dan nggak bisa dikode. Mau berapa hint-pun yang Junghwan kasih, when she doesn't know what he feels toward her, she won't know. Sedih banget karena makin ke sini Junghwan makin kelihatan dark dan nggak se-ekspresif awal-awal when he first realized he likes Deokseon more than just a friend. Menurut saya, perkembangan karakter Junghwan sayang banget padahal ya bener, chance dia tuh gede banget.

2. Choi Sabeom, a.k.a Taek, berlawanan dengan Junghwan, adalah sosok yang tahu benar apa yang dia mau dan berjuang untuk itu. Mungkin dia nggak selalu muncul karena sibuk akan baduk, tapi he's always there when Deokseon needs someone the most. Saya inget banget betapa Junghwan saya pikir nyebelin karena awalnya nolak ajakan Deokseon buat nonton konser bareng padahal itu chance besar dia, sementara Taek bisa lebih terbuka dan jujur akan perasaannya sendiri ke Deokseon. Mungkin ini juga efek dari POV Taek yang nggak tahu kalau Junghwan juga suka sama Deokseon sampai episode 16 sementara Junghwan tau Taek suka sama Deokseon langsung dari bibirnya sendiri di episode 10. Tapi saya respect banget Taek bisa ngaku kalau dia memang tahu Junghwan suka sama Deokseon meskipun di episode-episode terakhir sampai Junghwan ngasih restu (...), karena kalau nggak gitu mungkin dia nggak akan maju-maju. Menurut saya, dari sini aja pesan di episode 18 waktu Junghwan gagal nyusul Deokseon dan gobaek palsu itu udah sampai. Do not hesitate when you want something.

Anyway, saya agak sebel juga sama orang-orang yang berpikir usaha Junghwan nggak sebanding dengan usaha Taek. Memang Junghwan sangat perhatian dan mikirin Deokseon all the time, but doesn't mean Taek does not. Terlebih kalau dilihat dari usaha "nunjukkin" perasaan masing-masing. Bukti paling autentik kalau Taek sedalem itu suka Deokseon ada di episode 18 waktu dia sampai cancel pertandingan Baduk-nya buat nemenin Deokseon ke konser..... you can not call it shallow you know.

Anyway, saya berbicara sebagai watcher netral yang berusaha berpikir kritis aja. Not that I like Taek that much. Junghwan deserves his happy ending too.








3. You can not ignore Deokseon's role as the only female lead. Saya lihat banyak banget yang terlalu sibuk akan ship masing-masing yang tombaknya ada di masing-masing peran laki-laki tanpa memikirkan sudut pandang Deokseon sebagai perempuan. Siapapun yang menyukai Deokseon, in the end it's her who decides, right? Mungkin kebanyakan orang juga salah paham dengan pemaparan plot cinta di drama ini karena banyak yang bilang Deokseon "mapay" suka sama cowok-cowok di sekitarnya, padahal kalau ditilik lagi, dia end up sadar dia suka sama Sunwoo dan Junghwan karena teman-temannya. Sebagai gadis yang belum pernah pacaran, Deokseon terlihat berprinsip untuk nggak menunjukkan perasaannya duluan dan cenderung menyukai laki-laki yang suka dia duluan, case ini berlaku buat Sunwoo dan Junghwan. Makanya saya paling suka scene waktu Dongryeong ngasih advice ke Deokseon soal perasaannya sendiri, karena di akhir yang tahu perasaan Deokseon ya cuma dia sendiri. Menurutku pribadi, premis plot cinta drama ini tuh ada di sini, sadar nggaknya Deokseon dia maunya sama siapa terlepas siapa yang suka sama dia. For his spotlight, aku sayang sekali sama Dongryeong <3333 p="">




4. Dari episode 17, tepatnya waktu Deokseon digendong Taek dari lapangan bola karena nggak bisa jalan, saya pikir di situlah titik Deokseon sadar dia sukanya sama Taek. Gesturnya kelihatan dari scene dia sulit tidur mikirin Taek habis digendong, bahkan sampai kiss scene yang akhirnya muncul (!!!). Di episode 18 pun waktu mereka kumpul di cafe sebelum Junghwan balik ke Sacheon, ketika Taek belum datang, setiap orang yang masuk ke dalem kafe diperhatiin Deokseon, gestur kecil kalau dia sebenernya nunggu-nunggu Taek untuk dateng. Memang nggak dijabarkan jelas kalau Deokseon suka sama Taek, tapi menurutku gestur-gestur itu juga udah cukup menggambarkan. Makanya dari situ saya nggak setuju akan pendapat-pendapat yang bilang kalau Deokseon suka sama Taek karena dia dicium waktu Taek teler (....) habis minum obat di episode 17 itu. No, guys. Big no. They've grown to each other mutually and that's why I think it's fair to make Taek the husband.

5. Personally, I don't think female lead will always end up with male lead. Malahan, saya pikir reply series ini selalu blur siapa yang jadi male lead siapa yang bukan. Ketika orang-orang udah mikir male lead Reply 1988 ini adalah Junghwan, Junyeol sendiri tadi sore ngaku di V-App-nya kalau lead male-nya adalah Bogum. Saya nggak begitu peduli soal posisi karakter dalam drama sih tapi saya pikir yang terpenting dalam drama adalah alur ceritanya dan semasuk akal apa ending dibuat dari alur yang sudah jalan. Saya juga pikir pendapat orang mengenai "Park Bogum lagi naik daun makanya dia yang jadi suaminya Deokseon" itu fallacy, karena kalau bener, seharusnya jumlah pendukung Jungpal lebih dikit dong dari Taek. Justru pendukung Jungpal lebih banyak sampai pada kecewa setengah mati waktu tahu Taek yang jadi husband-nya Deokseon, bukan Jungpal. Kalau memang pemilihan suami ini berbasis pada popularitas atau tuntutan watchers, saya pikir harusnya Jungpal yang jadi suami. In my humble opinion. Both of them are rising star in South Korea and I think it's not okay to think about it while you can still see the details from the drama itself. Don't get too busy with the ship without even noticing the ship's development itself.




YAK! akhirnya keluar juga uneg-uneg saya (...) saya nggak tahu apakah ini udah semua atau ada yang saya kelupaan tulis, tapi kalau ada mungkin akan saya tambahkan juga berhubung saya belum nonton episode 19 dan 20 pakai sub masih nonton pake bahasa kalbu. Yang jelas, sekali lagi saya tekankan kalau saya membuat review ini dengan seobjektif mungkin dan memaparkan pakai data sejelas mungkin. Kalau ditanya sampai sekarang apakah saya sedih atau senang dengan berakhirnya drama ini, jawabannya paradoks: senang tapi sedih. Akhirnya saya terbebas dari pikiran-pikiran dodol tiap minggu, tapi sedih nggak bakal ada lagi yang bikin ketawa-ketawa sampah dan nangis tiap episode. Senang karena Taek menjadi suami Deokseon bukan hal yang terkesan maksa, tapi sedih karena Junghwan deserves better ending too. Overall, drama ini super berkesan buat saya, sampe saya hafal jam tayang, buka spoiler, mantengin subscene nungguin subtitle tiap selasa pagi, dan mikirin segala rupa analisis soal drama ini saking preciousnya each plot shown here. Better plot than Reply 1997 and 1994, tapi kurang rapi dibandingkan dengan Reply 1997. Irreplacable family-themed drama. Lots of love!

Anyway, I'll remember these scenes and miss them eventually; thank you TVN for such beautiful and heartwarming drama, ever.











 See you in another Reply series! :)

Labels: , , ,



Posted by Taree @ 9:59 PM. 2 Comment .

2 Comments:

Blogger strawieluphy said...

Tari~ *waves*
aku lagi blogwalking dan kebetulan nemu postingan Tari yang super panjang ini #dijitak
well done untuk reviewnya biarpun aku sendiri nggak nonton serialnya *terusngapain* *mejengdoangdikomen* *plak*
dan selalu suka baca tulisan Tari, ditunggu review lainnya ya :)

January 29, 2016 at 9:54 PM  
Blogger Tarinanda A. Putri said...

Tante Inne!!! huhu kangen T_T *yha*

Makasih sudah lewat dan sampai komentar segala hihihi. Iya nih aku nggak bisa menolak untuk nembok gara-gara kebaper sama dramanya... mungkin kalau ada minat dan senggang bisa coba nonton ya, Tan! Bagus kok dramanya T_T)b btw, terima kasih lagi yaa sudah lewat dan baca... semangat selalu untuk Tante Inne! <3

February 15, 2016 at 10:14 PM  

Post a Comment




Rewind                     Home                     Fast Forward


Amigos

Arina Listyarini
Pradnya Emeralda
Zaskia Osya Denaya
Tante Inne Larasati
Shafira Anjani
Sista Tamara
Eka Wahyuni
Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here