Wednesday, November 18, 2015

#326 sorry + 2015 books recommendation

WHEN I SAY SORRY I REALLY MEAN, SORRY :(

I've been so busy and these days real life is soooo hectic saya bahkan nggak sempat memikirkan kapan spare waktu yang oke buat blogging dan lanjutin challenge dan setelah ditunda turns out it's been three damn weeks. All blame is on me :( Promise will still continue the challenge once I get perfect timing to write tanpa memikirkan tugas kecerdasan dan inventory yang membuatku mendapatkan mimpi buruk.

Coming here because a) I MISS WRITING SO MUCH IT HURTS ME and b) I want to share something I really want to share since... I don't know, three-five months ago? Mungkin waktu itu saya nggak jadi nulis gegara saya pikir rekomendasinya belum cukup dan saya belum cukup baca buku tahun ini. I think basically when it comes to enough I'd never be enough with reading so anyway I'll still give you some recommendations from books I've read this year (or years before today). Happy reading, explore your imagination.


1) Me Before You by Jojo Moyes (click)

Probably best book I read this year. Saya udah cukup lama nulis judul buku ini di notes dengan tag to-read sampai akhirnya seorang teman membeli dan saya dengan shameless-nya minjem. This book has a very high page-turning thing!!!!! Saya biasanya selalu baca buku dengan pace SSP (Suka-Suka Pace) yang berakhir lama banget kelarnya atau yaa kalau emang oke bisa sih lumayan cepet di sela-sela daily life yang rusuh banget. I finished this book around three-four days BECAUSE IT'S SO CRAZILY ADDICTIVE. I brought this book anywhere and read it everywhere. Di bus, di rumah, di sela-sela perkuliahan plis gak usah dicontoh, sebelum tidur, bangun tidur, kapan aja.

How come? Saya udah pernah bilang belum sih kalau belakangan ini ordinary unyu-unyu romance stuffs don't work on me anymore. Buku ini punya plot yang berbeda dan sangat membanggakan. Kalian nggak akan mendapatkan kupu-kupu terbang di perut yang bikin kalian ingin ngerasain indahnya jatuh cinta seperti ketika kalian baca Eleanor and Park, karena plotnya mature dan membuat kita mikir. Buku ini bisa membantu kalian merasakan kehilangan, desperation, platonic love, dan family conflict dengan cara yang luar biasa kece. Moyes punya gaya deskripsi yang sedikit odd dan oh-so-can't-be-denied british, you'll either love it instantly or having sometime to adjust with it. Every single moment-of-thought is very perceptive. I like it sooooo much. Please read it if you can!

"Lou Clark knows lots of things. She knows how many footsteps there are between the bus stop and home. She knows she likes working in The Buttered Bun tea shop and she knows she might not love her boyfriend Patrick.

What Lou doesn't know is she's about to lose her job or that knowing what's coming is what keeps her sane.

Will Traynor knows his motorcycle accident took away his desire to live. He knows everything feels very small and rather joyless now and he knows exactly how he's going to put a stop to that.

What Will doesn't know is that Lou is about to burst into his world in a riot of colour. And neither of them knows they're going to change the other for all time."



2) Every Day by David Levithan

Lagi-lagi masterpiece dapet minjem. Saya mulai baca buku ini di tengah-tengah KKN dan kelar not so long after it ended. Beda dari gimana saya selalu seneng sama cara deskripnya Jojo Moyes dan John Green yang full of metaphores and brilliant quotes, David Levithan punya cara deskripsi yang sangat sederhana dan apa adanya, dan kalian nggak perlu takut nggak ngerti sama cara deskripnya karena dia punya cara tersendiri yang bikin bukunya mudah dimengerti. Btw, buku ini slow-paced abis, mungkin kalian bakalan nggak kuat nunggu letupan quotes kalau kalian nggak sabaran, tapi saya pun yang hampir-hampir nyerah karena mulai bosen malah ngerasa amused waktu twist plotnya muncul secara tiba-tiba. Selain itu, kayaknya Levithan adalah sosok yang punya pandangan sangat luas soal gender, karena selain buku ini, saya juga lagi on-progress baca Boy Meets Boy dan nampaknya sejauh ini Levithan sangat menghargai gender/orientasi seksual/identitas seksual seorang individu. Interesting topic for psychology student like me :))

 Saya nggak pintar buat sinopsis soal buku, jadi kayaknya bagusan langsung kutip sinopsis versi covernya langsung aja ya.

"Every day a different body. Every day a different life. Every day in love with the same girl. There’s never any warning about where it will be or who it will be. A has made peace with that, even established guidelines by which to live: Never get too attached. Avoid being noticed. Do not interfere."



3) The Girl on The Train by Paula Hawkins

The next Gone Girl, perhaps? Saya memang sengaja beli buku ini gara-gara review-nya yang terlihat menjanjikan dan genre psychological-thriller yang selalu berhasil bikin saya tercengang-cengang bodoh. Sebagaimana saya melongo dan wow-wow sendiri waktu baca Gone Girl, The Girl on The Train juga punya caranya sendiri dalam menguak tabir misteri dalam cara paling tidak dipahami sama sekali. Bedanya, Gone Girl menunjukkan sekali sisi "psikopati" dari salah satu tokoh utamanya (Amy), sedangkan dalam buku ini lebih diceritakan mind games yang bener-bener bikin pusing dari tokoh utamanya yang sebetulnya sih sehat-sehat aja (Rachel). Sama seperti Gone Girl, cerita ini juga akan segera di-film-kan. Mungkin tayang tahun depan. ADA JARED LETOOOOO.


"Rachel takes the same commuter train every morning. Every day she rattles down the track, flashes past a stretch of cozy suburban homes, and stops at the signal that allows her to daily watch the same couple breakfasting on their deck. She’s even started to feel like she knows them. “Jess and Jason,” she calls them. Their life—as she sees it—is perfect. Not unlike the life she recently lost."


4) Critical Eleven by Ika Natassa

Setelah beberapa bulan bacain banyak buku "luar", saya akhirnya eksplor lagi buku-buku dalam negeri dan dapat info kalau Ika Natassa bakalan rilis buku terbarunya.  As her genuine fan (ceilah), saya melakukan sesuatu yang sebenernya sih biasa aja tapi menurut saya patut dibanggakan: saya ikutan internet war demi dapetin buku ini secara pre-order. Nggak seperti twivortiare 2 yang saya dapetin dengan embel-embel keberuntungan, saya setengah mati banget dapet buku ini, padahal udah stand by dari pagi depan laptop demi ngeclick semua online book store, tetep aja nyaris kehabisan gegara kurang gercep :( untung aja masih dapet. Lumayan kan dapet bag tag Ale :") *HEH*

Kalian pasti udah tahu genre buku-bukunya Ika Natassa dan caranya ngedeskrip sesuatu. Sebetulnya, saya nggak pernah betul-betul muja cara deskripsinya Ika Natassa, tapi penggambaran di dalam buku-bukunya yang selalu apa adanya, terkesan real dan membuat ceritanya menjadi ngalir berhasil bikin saya blending parah. Nyaris setiap karakter laki-laki buatannya Ika ini bikin saya nggak move on seolah-olah mereka ada di dunia beneran. Selain itu, tema pernikahan yang cukup berat di buku ini juga bikin saya jadi ketar-ketir sendiri karena ngebayangin kehidupan pernikahan in real life (ciyeee). Buat beberapa orang mungkin endingnya terlalu ngegantung dan kurang memuaskan, tapi buat saya that's how she's always been. I never hoped for happily-ever-after ending for her books because reality doesn't know happily-ever-after. 


5) An Abundance of Katherines by John Green

HONESTLY. Saya ingin banget masukin Paper Towns ke dalam rekomendasi ini tapi saya tahu saya telat banget karena baru baca bukunya sekarang bahkan setelah film-nya rilis dan probably semua orang juga udah baca/tahu isi Paper Towns kayak apa, jadi sebagai genuine fan of John Green jijique, saya akan rekomendasikan bukunya yang lain yang nggak kalah oke. Sebetulnya saya udah baca buku ini akhir tahun lalu, barengan sama Eleanor and Park (ini juga recommended abis tapi tanpa saya jelasin orang kayaknya udah penasaran mau beli & baca jadi mending rekomenin yang lain aja yha), tapi saya baru bisa ketikin kespes saya habis baca itu sekarang biar dirapel sama buku-buku oke yang lain.

John Green wins when it comes to metaphors, brilliant sentences, describing feelings and coming-of-age-ish storyline. Nyaris semua bukunya punya unsur coming of age dan young adult yang memang kesukaanku banget. An Abundance of Katherines ini punya plot yang lumayan odd dan kalian mungkin nggak bakal langsung suka sama ceritanya waktu buka bukunya karena sejujurnya John Green bikin tokoh utamanya adalah seorang science prodigy dan masuk-masukin rumus segala rupa di dalam cerita (saya ngelarin buku ini hampir sebulan btw). Tapi, caranya ngebawa cerita bisa bikin saya betah dan ngerti mau ke mana dia ngegiring kita di dalam alur ceritanya. Sebenernya alur ceritanya memang nggak se-nyata itu irl, tapi pesan yang mau disampaikan oke banget. Saya memang pasaran banget but hell yeah, I love John Green and I love him with reasons. 


"Katherine V thought boys were gross
Katherine X just wanted to be friends
Katherine XVIII dumped him in an e-mail
K-19 broke his heart
When it comes to relationships, Colin Singleton's type happens to be girls named Katherine. And when it comes to girls named Katherine, Colin is always getting dumped. Nineteen times, to be exact."



PANJANG BANGET KIRAIN GABAKALAN PANJANG

 Untuk selanjutnya, saya juga lagi on-going baca dan niat baca beberapa buku sih. Semoga sebelum akhir tahun pada kelar yak. Ini list yang saya targetin kelar sebelum tahun baru:

1) My True Love Gave to Me by Stephanie Perkins (on-going!!!!!)
2) I'll Give You The Sun by Jandy Nelson
3) Aristotle and Dante Discover the Secrets of The Universe by Benjamin Alire Saenz
4) We Were Liars by E. Lockhart

untuk to-read, read dan list lainnya bisa diintip di goodreads-ku. Yang punya akun GR boleh di-add yaa let's be friend and talk about books more!

Jadi begitulah. Semoga kalian terinspirasi dan penasaran untuk baca ya. Reading, for me, is an exercise. Brain exercise to be exact. You explore your mind and imaginations by reading, and within them, you can't stop. That's why most people complain about movies that adapted from books. In books, you can't stop yourself imagining. By watching, your imaginations are limited. You don't have to read self-help or advices book to keep yourself improved, reading anything is enough. Reading anything already opens your mind wider. 

 


Labels: , , , ,



Posted by Taree @ 6:32 PM. 0 Comment .

0 Comments:

Post a Comment




Rewind                     Home                     Fast Forward


Amigos

Arina Listyarini
Pradnya Emeralda
Zaskia Osya Denaya
Tante Inne Larasati
Shafira Anjani
Sista Tamara
Eka Wahyuni
Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here