Monday, December 22, 2014

#289 9 best movies I've watched this year

3rd challenge accepted! Padahal besok masih ada uas walaupun terakhir, tapi rasanya mood lagi oke banget buat diabaikan. Mungkin ini akibat kemarin habis ganti skin jadinya lagi seneng-senengnya ngepost. Hahaha. Anyway, milih 9 dari banyaknya film yang saya tonton tahun ini susahnya minta ampun... dan gak usah kaget kalau ternyata alasan saya dibalik terpilihnya film-film ini cetek (dangkal) banget. I just love it.



3. 9 Best Movies I've Watched This Year (arranged alphabetically)


1. About Time (2013)

Film british; jadi hal pertama yang bikin saya betah nontonnya adalah aksen british yang seksi bertebaran di mana-mana. belum apa-apa aja udah salah fokus kan. Film ini genre-nya yang paling dominan adalah family, tapi ada unsure fantasi-nya juga dari kata "time" yang jadi menu segar di film ini. Awalnya, saya pikir plot film ini nggak akan beda jauh dengan film-film lain yang hobi pake "waktu" sebagai senjata di plotnya, tapi ternyata film ini jauh lebih detil dan keren dalam menjadikan "waktu" itu sebuah teman dan musuh di satu waktu. Saya selalu suka gimana setiap setting di film ini disajikan dengan sederhana tapi glorious, karena setiap detil dari film ini akan kelihatan "berliannya" dalam plot. Takut keburu spoiler.... yang belum nonton mendingan cobain deh. This is great.


2. Big Hero 6 (2014)

Anak nongkrong bioskop mustahil lah ya belum nonton film ini.  Saya yang biasanya nggak terlalu semangat nonton film animasi terguncang skala berat setelah nonton film ini, asli. Dari seratuspersen persentase yang disajikan, kayaknya 50:50 saya pake buat mood swing kayak orang bodoh. Habis ketawa-ketawa gila, langsung nangis; gitu-gitu terus selama dua jam. Bayangkan betapa pintarnya film ini bikin saya kesel dalam teater. Wakakaka =)) Btw, saya ngeceng parah Tadashi (adiknya tokoh utama di film ini) yang endingnya nggak bisa lebih tragis lagi.... And yes, Baymax, I'm satisfied with your care :)


3. He Loves Me..., He Loves Me Not / À la folie... pas du tout (2002)

Kalau About Time bisa bikin saya tertarik karena di awal film saya udah bisa dengan peka dapet aksen british yang seksi, film ini justru di awal-awal bikin saya kliyengan sampe mikir mau nunda nonton gegara bahasa prancis-nya yang bikin geli telinga. Yes, film ini film Prancis dan genre-nya psikologi. Ada sajian yang kaitannya kental banget sama psikologi, dan kalian gak perlu takut cuma anak psikologi doang yang bisa nikmatin ini karena unsur psikologi yang dikasih gak serumit film-film psikologi lain (???). Akting pemeran utamanya bagus banget saya sampe gatel mau applause. Anyway, sampe ending filmnya saya merinding banget saking gilanya. Gila---gak ngerti lagi mau kagum kayak apa.


4. Hidamari no Kanojo / The Girl in Sunny Side (2013)

Kalau yang ini, jelas banget lah ya dari namanya juga kalau ini film jepang. Yang main juga aktor aktris terkenal (Matsumoto Jun & Ueno Juri). Di luar setting romance yang dominan, film ini punya sudut fantasi yang bikin saya tercengang habis-habisan waktu nonton. Saya sebenernya selalu sangsi tentang bagaimana orang bisa menyatukan dua genre yang bedanya jauh banget sampai takut filmnya jadi alay atau apa--tapi film ini jadinya bagus minta ampun; dan kalau saya boleh pinjem istilah postingan kemarin, filmnya rawan baper banget. Classic and beautiful, totally my taste :3


5. Kanojo wa Uso Wo Aishisugiteru / The Liar and His Lover (2013)

Film Jepang yang saya tunggu-tungguin dari akhir 2013! Kampret emang baru rilis Juni dan saya langsung kalap nonton 2x tanpa sub kayak iya ngerti obrolannya aja. Impulsif, impulsif. Tapi setelah saya dapet subtitlenya dan nonton dengan kepala dingin, ternyata nggak heran kalau film ini "besar" di negaranya sebelum dvdnya rilis: 1) Takeru Sato as music prodigy (come on, he is too great to be called only "good") 2) Perfect conversion from manga to live action. Saya mungkin bias parah sama Takeru Sato tapi asli akting dia di sini okenya nggak main-main, apalagi karena saya juga udah nonton film-film dia yang lain. Btw, selain suka filmnya, saya juga suka banget sama soundtrack-nya. Paling suka itu yang pernah saya post juga, lagunya Crude Play yang Graduation.


6. My Old Classmate (2014)

Saya nggak tahu ini film Hongkong atau Taiwan intinya ini film mandarin dan efek bapernya sama kampret ketika saya nonton You Are The Apple of My Eye. Ya gak sama-sama amat tapi karena tema yang diambil mirip dan beberapa scene memang terinspirasi dari YATAOME jadinya gimana gak kecampur aduk? Permainan plot dengan jarak waktu yang panjang banget itu lho yang sebenarnya lethal banget. Saya lemah banget sama film yang ambil range waktu plot-nya panjang, soalnya. Oh, sekadar info, saya galau berhari-hari habis nonton film ini cuma gegara quote "The world really defeated us."


7. Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno (2014)

Akibat excited gak karuan setelah nonton Rurouken yang pertama, saya nekat nonton rurouken yang ini ke bioskop jauh-jauh dari Nangor - PVJ. Dan.... nggak mengecewakan. Nggak mengecewakan = NGGAK MENGECEWAKAN. Filmnya sangat dipersiapkan dengan matang setelah dua tahun off dari film yang pertama; dan seperti yang sudah saya sebutkan juga: you can't put even a single doubt on Takeru Sato's role as Kenshin here.


8. Rurouni Kenshin: The Legend Ends (2014)

SELANG SEBULAN DOANG. Sama cerita kayak Kyoto Inferno, nonton ke Blitz bekal nekat tapi hasilnya emang happy nggak ketulungan. Keseluruhan, sebenarnya di The Legend Ends ini banyakan action ketimbang plot-plot konversasi kayak yang di Kyoto Inferno. Takeru berhasil menuntaskan perannya dengan indah dan membuat saya tambah bias sama dia. Huhu. Kalian-kalian yang tahu anime "samurai x" yang tayang di sini harus coba nonton deh, who knows cocok kayak aku kan :)


9. Sybil (1976)

Paling terakhir yet paling jadul. Ini mah boro-boro saya udah lahir, Mama saya aja umurnya masih 8 tahun pas film ini rilis. Dan.... seperti film nomor 3, film ini genre-nya Psikologi. Cuma emang agak lebih berat karena simptom yang muncul juga nggak lumrah. Saya muji banget aktingnya pemeran Sybil di sini; karena who else could play that great as a person who suffers from DID? Kerennya gak ada obat, walaupun emang harus cari tempat yang comfortable dan spare time yang banyak buat nonton karena film ini durasinya 3 jam dan kalau kalian kelewatan satu scene bisa-bisa kehilangan clue dan feeling ke filmnya. Yang kuliah jurusan psikologi kayak saya, mungkin coba deh tonton biar khatam ilmu Psi. Abnormalnya. Hahhaa. Oh ya, Sybil juga adalah film yang endingnya bikin saya merinding parah. You can guess how glorious the movie is with my testimonials.

Labels: , , , ,



Posted by Taree @ 7:28 PM. 0 Comment .

Sunday, December 21, 2014

#287 2.50

Judul's consistent with the clock in my laptop right now. asli belum apa-apa udah nggak penting.
Sebenernya tadinya mau lanjut tidur lagi setelah kebangun jam 12 dan lagi gak shalat jadi gabisa tahajud tapi kepikiran kenapa nggak nonton dan akhirnya saya nonton Faces in The Crowd sampai jam 2, terus udahnya gara-gara saya parno saya nonton Ao Haru Ride (anime) episode 2, terus greedy nonton mv ikimono gakari sekalian spoiler-in diri sendiri, terus cek tumblr dan tahu ternyata ada extra episode dan akhirnya saya download dan karena saya ngerasa bersalah kalau ninggalin bobok kayaknya enak juga sambil nunggu sambil ngepost sesuatu di sini.

bukti nyata it's 2.50 waktu rumah taree (click for the bigger image)



Dua hari lalu, (Jumat, 19/12) saya nggak pulang dari Nangor dan nginep di kost-an seorang teman. Tumben banget kan, soalnya biasanya saya kadang udah malem aja bela-belain balik karena nggak ngerasa well-being untuk jadi kuncen Nangor. Sebenarnya niatnya nginep ini supaya ada refreshment sedikit paska uas (padahal Senin sm Selasa masih ada juga), sama cerita-cerita hal yang sebenernya menurut saya worth untuk dibahas sesama teman dekat. Biasanya saya ngomong hal ginian sama satu orang aja, tapi entah kenapa setelah ngobrol we thought we needed help from the others. Jadilah sesi cerita-cerita "gue buang semua sampah gue" Jumat kemarin itu kejadian. Saya nggak bisa ceritain mendetil lah ya kayak gimananya, tapi..., saya lebih merasa ter-encourage untuk doing something new. Saya kan orangnya parnoan dan level insecure-nya udah melewati cross-line, kadang rasa parno dan insecurity itu terlalu besar mengalahkan teori dan segala-gala hal yang sifatnya worth to try. Mungkin untuk lebih terbuka bakal tetep sulit soalnya memang udah kebentuknya begini selama 20 tahun hidup tapi ada beberapa hal yang ketika saya nggak mau coba yaudah saya bakal kekurung terus dalam penjara "gue gabisa ngapa-ngapain" yang dari dulu saya punya. Hfffft. Lucunya, sekalinya ngobrolin hal ginian saya kepikirannya sampe amit-amit karena kayaknya saya biasa "menekan" obrolan semacam  ini dan jatohnya numpuk di kepala. Sekalinya dibahas jadi kepikiran lama banget ga kelar-kelar. Mungkin saya butuh desensitisasi buat mengatasi hal-hal semacam ini. Ya. I'm a girl with sooooo damn many theories in mind but unable to apply it properly. NO, not properly, even to try to apply it I don't have any guts. I know I'm such a coward. Don't sue me.


Anyway.



Seriusan harus nunggu enam bulan lagi buat nonton ini? Kampret.

Dari tanggal 13 kemarin pas filmnya rilis di Jepang saya udah nggak karuan heboh-hebohnya. Habisnya... saya ngikutin ao haru ride ini dari zamannya anime belum keluar (jadi baca manga doang), sampe ada kabar bakal dibuat live action, sampe anime season 1-nya kelar.... dan setelah filmnya rilis di Jepang pun saya harus nunggu berbulan-bulan lagi buat official dvd release-nya. Tabah banget. Masih inget banget tuh tahun lalu stres-nya kayak apa nungguin Kanouso rilis berjeda Desember 2013 dan baru rilis Juni 2014. Sukitte ii na yo dari Juni 2014 ke Desember 2014. Gak bisa lebih lama lagi banget kah ini nungguin film-film yang ditunggu? Gemes banget rasanya. Apalagi saya fangirlingan ke Higashide Masahiro (yang meranin Kou Mabuchi) habis-habisan sampe eungap (bahasa sunda-nya sulit napas) dan kehabisan bahan buat dicerocosin. Repot banget but I'm happy. Habis dia mainin perannya jadi Kou nampaknya click banget (from body proportion to hair to voice to DAMNNNNN HIS JAWLINE) ingin ngomong kampret sepuluh kali. maaf banget anaknya anarkis

Btw, saya semakin menuntut Sakisaka Io supaya cepet bikin manga-nya tamat. Makin ke sini makin gak kuat baca chapternya satu-satu kayak hati saya tiap baca melorot ke telapak kaki saking pegelnya didesak kupu-kupu. Alright, simply, maksud saya ya manga-nya bikin degdegan. Udah sampe di tahap "lebih dari menyerah" dan berkali-kali cuma bisa ngomong "plis tamatkan segera sebelum saya yang tamat" orz. Saya sendiri nggak nyangka saya kuat ngikutin manga setiap bulan ngecek mangafox liat chapter baru udah ada atau belum, padahal sebelumnya saya males dan cukup ngerasa kerepotan. Kayaknya baru ao haru ride aja yang saya ikutin ampe segininya, and yes it's shoujo I truly enjoy shoujo at heart lol

Makin ngalor ngidul aja ya Allah...................


Mending undur diri aja deh. Anyway, beberapa December challenge lain bakal saya usaha kelarin selepas UAS, ya. 2 hari lagi kok. Fighting~

Labels: , , , , , ,



Posted by Taree @ 3:10 AM. 0 Comment .

Saturday, April 26, 2014

#256 Rurouni Kenshin



Sengaja dipajang dua gambarnya biar yang baca langsung ngeh kalau nggak tahu sebenarnya Rurouni Kenshin ini jelmaan versi manusia asli (...) dari Rurouni Kenshin versi anime, atau kalau anak-anak Indonesia sih tahunya 'Samurai X'. Samurai X ini salah satu anime yang gak pernah saya tinggal untuk ditonton pas kecil dulu, sebangsa sama Hunter X Hunter gitu. Now to think this anime is reproduced with live action setting, saya jadi mikir it's been so looooooooooong since I watched the series. Bangga juga, karena ternyata saya udah bangkot gini masih bisa disuguhin film yang ngingetin masa kecil dulu, hihi.

Balik ke topik aslinya, jadi saya siang ini rewatch Rurouni Kenshin yang versi live action. Judulnya sih rewatch, tapi saya lebih excited kali ini ketimbang pas kali pertama nonton. Ya.... sebenarnya sih pas pertama nonton itu saya nggak selesai, kayak baru seperempatnya terus saya stop. Lupa waktu itu kenapa nggak selesai nontonnya, kalau nggak salah karena lagi rusuh, atau mungkin karena lagi excited sama drama/film lain kebiasaan.

Di Rurouni Kenshin live action ini, yang jadi Himura Kenshin-nya Sato Takeru, satu dari beberapa aktor jepang kesayangan saya. Saya di awal sempat agak bingung dan ngecap Takeru yang aneh-aneh pas jadi Kenshin. Gembel lah, badannya kurang tinggi lah (....dikutuk fansnya), tapi pas udah nonton ternyata dia dapet banget perannya jadi Kenshin. Entahlah, Kenshin punya dua sisi yang sebenarnya kontras, dan feel dari anime-nya sampai ketika diperanin sama Takeru. Nggak bisa komen apa-apa lagi deh sama Takeru. Hal kedua setelah main actor yang jadi Kenshin yang bikin saya geleng-geleng adalah.... dua pemeran perempuan yang kece parah di live action ini ternyata pemeran kesayangan saya juga; Takei Emi sebagai Kaoru dan Yu Aoi sebagai Megumi. Pusing-pusing deh tuh kepala. Biarpun kedua peran ini diperankan oleh aktris kece, di live action seri pertama ini saya malah duluan lebih nangkep feel-nya Megumi daripada Kaoru. Dulu waktu di anime juga saya lebih ngeship Kenshin/Megumi sih di awal-awal. Semoga di seri selanjutnya karakter Kaoru diperdalam deh.

Untuk plot... perlu dijelasin juga nih?

Canda deng.

Jadi, Kenshin ini adalah ex-hitokiri battousai gitu. Hitokiri Battousai ini diartikan sebagai seorang pemegang katana(pedang panjang) yang biasa membunuh orang banyak. Sempat dijelaskan sedikit masa-masa kelam Kenshin selama jadi hitokiri, tapi dia akhirnya bersumpah untuk nggak membunuh lagi dan memutar balik posisi katananya. FYI, bagian normal katana yang depan itu tajam, dan bagian belakangnya nggak tajam. Kenshin memutarnya sehingga bagian depannya nggak tajam, tujuannya biar dia nggak membunuh orang lagi. Dia akhirnya jadi pengembara, dan di tengah pengembaraannya itulah Kenshin bertemu dengan Kaoru dan tinggal sama-sama di dojo Kendo kepunyaannya. Inti dari konfliknya sih gimana akhirnya Kenshin mempertahankan sumpahnya untuk nggak membunuh lagi di antara himpitan banyak orang-orang yang disakiti dan dia ingin menolong.

Ya gitu lah. ngerti kan? harus ngerti

Langsung ke personal opinion aja ya.

I JUST CAN NOT.

Maksudnya, Sato Takeru.... jadi Kenshin? Selamatkan hamba-Mu ya Allah.

Kenshin selalu punya aura polos tapi keren ketika dia serius, dan awalnya saya takut Takeru nggak bisa memerankan itu karena selama ini saya lihat dia punya peran dewasa yang serius. Tapi ternyata... damn it, saya sekarang nggak bisa berpikir andaikan yang jadi Kenshin bukan Takeru. Bless his acting skill. Ya, entah juga sih sebenarnya kalau saya agak bias, karena udah lama saya juga emang ngefans sama Sato Takeru. Tapi serius, aktingnya di Rurouken ini bagus banget kok.

Plotnya bagus, action scenes-nya udah patut ditepuktanganin. Film ini mostly pakai senjata yang bener-bener pakai skill untuk yang meranin. Say, samurai dan pedang lebar punyanya Sanosuke itu. Nggak tahu lagi deh mereka latihan akting-nya kayak gimana. Terus, saya agak khawatir gitu pas ada temen yang bilang "ending-nya geje" tapi ternyata endingnya sesuai dengan yang saya harapkan. Hahaha! dasar kamu fluffy queen

Intinya, bagus dan sangat mengobati kerinduan akan Samurai X di masa kecil saya. Ditambah lagi ternyata bakal ada seri kedua dan ketiga tahun ini--which means I can't really wait (walaupun entah bakal diputer di sini atau nggak). Ngingetin gimana saya dulu suka sama Samurai X... dan back then, saya nggak pernah berpikir kalau Samurai X akan muncul dengan versi live action dan yang meranin jadi Kenshin ternyata aktor kesayangan saya juga TT_TT CURHAT AJA TERUUUUUUUUUUS

Bau-baunya sih saya bakalan nonton ulang anime-nya dari youtube. After-effect banget ini sih.
Eh iya, selain rurouken, tahun ini bakal ada live action-nya Kuroshitsuji juga. Yah, Kuroshitsuji juga satu dari anime-anime favorit saya. Mau nangis terus nih kalau dapat kabar anime kesukaan dijadiin live action. Sekarang saya nggak berani bayangin kalau besok-besok yang dibuat live action Kurobas atau Free! atau Shingeki no Kyojin. Huhu.

Undur diri ya sebelum makin OOC. Ppyong ;)


Labels: , , , ,



Posted by Taree @ 4:39 PM. 0 Comment .

Tuesday, October 22, 2013

#214


Habis nonton 5-nen go no love letter (Love Letter for 5 Years Later). Pemain utamanya Osamu Mukai. Terus nggak bisa nahan-nahan feeling buat nggak spazzing.

SOALNYA FILMNYA SINTIIIIIIIIIIIIIIIIIIING tabok-tabokin yang rekomendasiin

sayang banget nggak ada subtitlenya, tapi benar kok walaupun nggak ada subtitlenya pun tetep bisa nonton, soalnya akting sama scene-nya tuh nggak rumit buat dimengerti. Belum kuat review karena masih trauma banget lihat Osamu ganteng luar biasa perannya kece tapi ternyata harus dapet character-death ;_;

Agak heran. Dulu pas awal-awal banget suka j-dorama sama j-movie kok saya nggak demen duluan sama Osamu. Baru sekarang keracunan dan akhirnya pun jadi agak pengen jedukin kepala ke dinding soalnya kok telat banget. Ya... ngerti kan ya. gak ngerti pun nggak papa ini cuma postingan sampah kok

......terus baru sadar juga masih banyak film yang terdownload yang ada osamu-nya dan belum ditonton.

and tons of drama list dvd I'm going to buy next chance I have time.

3Q, Osamu Mukai. lap air mata karena tidak kuat review habis nonton

Labels: , , , , , ,



Posted by Taree @ 3:33 PM. 0 Comment .

Saturday, October 19, 2013

#212 reviews for Hanamizuki, Bokura Ga Ita, and Aishiteru~Kizuna

Akhirnya, setelah beberapa lama ditunda, saya bisa kuat mental nulis review di sini. Asalnya mau nulis soal Hanamizuki aja, terus ternyata saya merembet nonton film lainnya sampai mau review empat hari ini. EMPAT SAUDARA-SAUDARA bayangkan betapa kuatnya mental saya review film-film dahsyat ini



1. Hanamizuki (ハナミズキ) (2010)



Film ini diadaptasi dari lagu punya Yo Hitoto yang judulnya juga sama. Saya sebenarnya tahu film ini dari Rahma, lalu setelah dia ngasih film ini ke saya, saya sempet nganggurin beberapa bulan sebelum akhirnya nonton. Pemeran utamanya ada tiga; Aragaki Yui (Sae), Ikuta Toma (Kohei), dan Osamu Mukai (Junichi). 


Secara singkat, film ini menceritakan tentang gimana Sae dan Kohei bertemu ketika mereka masih muda, jadi dekat dan pacaran. Lalu Sae ini memutuskan untuk kuliah ke Tokyo dan pindah dari Hokkaido (setting utama film), meninggalkan Kohei yang bercita-cita jadi pelaut meneruskan ayahnya. Di Tokyo, mulai banyak konflik terjadi karena Sae dan Kohei LDR, apalagi Sae ketemu senpai ganteng yang ngasih dia part-time job, yaitu si Junichi ini. Mulailah banyak konflik, dari salah paham biasa sampai akhirnya mereka dewasa dan nggak bertemu bertahun-tahun. Kohei dan Sae sama-sama nyimpen perasaan yang masih sama, tapi mereka terpisah jauh dan terlalu banyak konflik membentang. Di sisi lain, Junichi di sini menyukai Sae juga dan saya sempat ngeship Sae sama Junichi akhirnya memutuskan untuk melamar Sae.

Untuk cerita lanjutnya, sila ditonton filmnya ;) atau kalau mau sinopsis lebih jelas ke sini.

Impresi awal saya waktu dikasih film ini: mencak-mencak. HOW COME, maksudnya, Toma Ikuta, Aragaki Yui, dan Osamu Mukai disatukan dalam sebuah film? NOOOOOOO. Kurang lebih ekspresi lebaynya gitu. Maksudnya, saya sukaaa banget sama Osamu Mukai, lalu Gakky ini pemeran cewek yang dari dulu ngebekas gitu di hati soalnya pernah mainin Mika di Koizora dan bikin saya mewek-mewek bombay setelahnya. Toma Ikuta? Nggak usah dijelaskan pun pada tahu kan dia ini populer, kece, ganteng andtheblahblahblah.

Setelah nonton, saya pikir Hanamizuki ini film yang cukup sederhana, tapi feels yang dikasihnya dalem banget. Buat saya lho. Banyak adegan-adegan kecil yang nabok banget. Saya sempet kesel berat sama Kohei yang nggak mikir panjang dalam melakukan hal dan bikin Sae terluka. Saya lebih kesel lagi sama konflik yang bikin saya banjir di saat Sae mau nerima lamarannya Junichi. Hancoooor hatiku.

Walaupun endingnya bisa dibilang cukup memuaskan, tapi saya pikir feels yang ditabur di endingnya nggak sedahsyat ketika film berlangsung. Kurang memuaskan, buat saya, karena masih bisa dieksplor lagi kayaknya endingnya biar gak nanggung feelnya. protes mulu

Tapi, saya suka banget sama film ini ya karena tadi, feel di adegan-adegan kecilnya tuh dapet banget dan saya tenggelam beberapa hari dalam feelsnya ;; buat penggemar Gakky, Toma, dan Osamu, harus nonton lho!







2. Bokura Ga Ita, Zenpen (僕等がいた 前篇) (2012)

Film ini lho yang sebenarnya paling bikin saya nggak move on. Dari beberapa rekomendasi teman yang saya percayai, akhirnya saya nekat juga download movienya dalam satu hari dan langsung marathon. DAHSYAT. Tengah malam saya mewek-mewek geje dan besoknya di kampus saya udah gak berbentuk lagi otaknya. Nggak gitu konsen dengan mata terkantuk-kantuk. Tapi, film ini worth-it banget untuk ditonton!

Bokura Ga Ita ini sebenarnya live action dari manga/komik yang kita tahu judulnya "Here We Are". Saya sebenernya pernah baca satu komiknya di tempat meminjam dan nggak kuat mau lanjutin karena katanya banyak banget (bahkan sampai movie ini rilis pun komiknya masih on-going) #DAHSYATBANGET.

Bokura Ga Ita Zenpen ini punya major cerita dimana seorang gadis bernama Takahashi Nanami (Yoshitaka Yuriko) jatuh cinta pada cowok tertenar di sekolahnya, Yano Motoharu (Ikuta Toma). Nggak seperti kebanyakan cerita shoujo-manga soal cowok tenar, ternyata Yano ini punya memori yang cukup kelam soal kematian pacarnya. Bisa dibilang, Yano ini nggak bisa move on dari ceweknya yang ternyata sebelum meninggal pun mengkhianatinya karena balik-balik terus sama pacar lamanya.  Dari banyaknya gadis yang suka sama Yano, ternyata cuma Takahashi yang bisa bikin Yano mau coba untuk move on. Takahashi harus mau sabar dengan karakter Yano yang benar-benar sulit move on dari pacar lamanya ini. Di akhir cerita, Yano benar-benar jatuh cinta pada Takahashi. Tapi, mereka harus terpisah karena Yano harus pindah dari Kushiro ke Tokyo karena masalah keluarga.

TOMA IKUTA LAGI GUYS. Saya nggak ngerti karena dengan film ini, saya makin ngefans sama beliau ini. Di sini, memang peran Yano ini nggak gampang and sometimes he's accurately annoying. Ngebetein, mainin perasaannya Takahashi yang tulus karena masih kebayang-bayang almh. pacarnya. Tapi, Toma sukses banget mainin karakter ini dan saya nangis di banyak part. Takahashi ini juga benar-benar attached gitu sama Yano sampai akhirnya Yano sadar he's there to keep going. Banyak quote yang bikin saya tenggelam dalam feels dan sukaaa banget sama plotnya. Sinematografinya juga keren, gimana mereka menyingkat part-part yang seharusnya detil juga nggak mengganggu. Pokoknya, suka banget. Yang paling saya suka dari film ini adalah, film ini ngambil setting panjang banget, sepuluh tahun, kalau nggak salah. Konflik-konflik remaja yang mulai berubah jadi konflik dewasa yang bikin hati ketar-ketir sukses bikin saya tepuk tangan. Pokoknya, film ini bagus banget.






3. Bokura Ga Ita, Kohen (僕等がいた 後篇) (2012)

Bokura Ga Ita ini adalah kelanjutan dari Bokura Ga Ita Zenpen. Nggak bisa disebut sekuel karena ternyata kalian harus banget nonton film yang Zenpen dan lanjut ke Kohen.  Di Kohen ini, diceritakan Takahashi dan Yano sudah sama-sama lulus sekolah dan bekerja. Mereka nggak sekali pun bertemu sejak berpisah saat sekolah, tapi mereka tetap maintain LDRnya. Tapi, tiba-tiba Yano ini memutus kontak dengan Takahashi dan hubungan mereka akhirnya retak. Di satu sisi, Takahashi masih sama-sama dengan Takeuchi, teman dekatnya Yano waktu mereka satu SMA dulu. Takeuchi ini dari dulu sudah suka sama Takahashi dan di film ini akhirnya mereka pacaran. Yano nggak diketahui kabarnya dan konflik yang tersimpan di balik itu bikin saya sesek minta ampun.

Ini beneran, detik demi detik di film ini selalu bikin saya mewek kayak orang gila. Konfliknya nyiksa batin banget dan entah kenapa di sini saya makin suka sama Yano di saat semua orang nggak suka sama dia. Posisi dia di sini itu korban, buat saya. Dia ini dipermainkan takdir jahat yang ngunci dia di hal-hal buruk yang bikin dia selamanya nggak move on. Entahlah ya, tapi saya bener-bener suka konfliknya walau jadinya mewek semalaman.

Berhubung seperti yang saya bilang, kalau pas film ini rilis ternyata manga/komiknya masih on-going, ternyata ending yang nggak dikasih pun nggak begitu bikin hati nyesss. Memuaskan, tapi nggak bikin saya nangis sampai lompat dari balkon. #YANGGAK.

Tapi, secara keseluruhan, saya suka. BANGET. sama film Bokura Ga Ita ini. Masalah yang dikasih buat Takahashi dan Yano bikin mereka berdua strong dan tahu ke mana mereka seharusnya kembali walaupun sudah terpisah bertahun-tahun. Salut banget.





4. Aishiteru~Kizuna (アイシテル~絆~) (2011)

Yang saya nggak tahu, ternyata Aishiteru~Kizuna ini sekuel dari Aishiteru yang sebelumnya pernah tayang sebagai dorama. Saya sempat pontang-panting mikir gimana kalau saya nggak ngerti soal jalan ceritanya, tapi ternyata nggak khawatir karena film ini cukup menggambarkan past-times dan kita secara keseluruhan bisa tahu cerita di dorama Aishiteru. saya lebih khawatir bakal kuat mental apa nggak lihat Okada Masaki dan Osamu Mukai satu film

Aishiteru~Kizuna bercerita tentang kehidupan Morita Naoto (Okada Masaki) yang sudah dewasa dan tinggal terpisah dari anggota keluarganya, yaitu Ibunya dan kakak laki-lakinya, Morita Tomoya (Osamu Mukai). Naoto sudah menikah dan punya istri, yaitu Morita Kana (Mizukawa Asami). Naoto dan Kana dihantui rasa cemas Naoto soal masa lalunya tentang Tomoya, yang ternyata pernah membunuh temannya ketika masih kecil dulu. Konflik keluarga ini sempat membuat Naoto depresi dan berpikir kalau sebenarnya dia lebih baik nggak lahir daripada menderita terus dihantui bayang-bayang sebagai "seorang adik dari pembunuh". Lewat konflik-konflik maut keluarga ini, Naoto akhirnya bisa merasakan kalau semua anggota keluarganya, dan Kanna, selalu sayang padanya dan dia selalu punya alasan untuk hidup.

Seperti yang saya jelaskan di atas, SAYA DEPRESI KARENA MUKAI DAN MASAKI KOK ADA DI SATU FILM. Jadi adik-kakak, pula. Maksudnya----(ilang sinyal)

Oke, nggak seperti tiga film lainnya, genre film ini lebih ke comfort/hurt-nya family. Saya bisa membayangkan gimana hidupnya Naoto dengan bayang-bayang dia adalah adik dari kakak laki-laki yang pernah membunuh ketika umurnya 10. Di sini banyak pesan yang bisa dikasih dan saya suka gimana akhirnya Naoto bisa menjalin hubungan lagi dengan kakaknya walaupun mereka benar-benar hidup terpisah. Saya sebenarnya agak nggak suka dengan Ibunya Naoto dan Tomoya yang terkesan mengasingkan Tomoya setelah kecelakaan itu. Entah kenapa rasanya nggak adil, disaat Tomoya benar-benar menyesal dia bahkan nggak bisa bertemu keluarganya lagi. Di sini emang Naoto menikah dengan Kana, tapi konflik paling menonjol memang ditampilin buat Naoto sebagai laki-laki Morita yang depresi karena punya kakak pembunuh. Filmnya sederhana, tapi bagus. Saya nggak tahu mau komen apalagi karena ternyata tau-tau pas filmnya habis saya balik rambling soal Mukai (.....)

Sampai bertemu di review-review selanjutnya!









Labels: , , ,



Posted by Taree @ 11:21 AM. 0 Comment .




Rewind                     Home                    


Amigos

▲ Arina Listyarini
▲ Pradnya Emeralda
▲ Zaskia Osya Denaya
▲ Tante Inne Larasati
▲ Shafira Anjani
▲ Sista Tamara
▲ Eka Wahyuni
▲ Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here