Monday, April 8, 2013
#187 we're the very hurt you sold (I wish I could save myself away)
We Are The Very Hurt You Sold (I Wish I Could Save Myself Away)!warn: Angst.
Inspired by angsty lyrics from My Chemical Romance's Helena and Cancer
Summary: And what's the worst to take from every heart you break? Well, I've been holding on tonight. (Helena)
Satu detik terasa begitu lama andai yang kau tunggu tak menyambutmu dengan butir-butir pengabulan harapan yang kau tanam. Ada aku, di sini, memaku tatapanku padamu agar segala energi yang kupunya bisa kau raih untuk menatapku kembali—walau lemah, walau hanya sekedar pendaran singkat dari biner kelammu yang cahayanya meredup. Lalu, kau di sana; terbaring di atas pembaringan dengan wajah sedamai yang selalu kuinginkan, bunyi-bunyian alat-alat medis menyamarkan detak jantungmu yang tak kusadari makin melemah.
Tapi mengapa senyummu menyuruhku untuk tetap tinggal?
Mungkin dari pandanganmu, berbagai macam malaikat sudah berkumpul untuk mengajakmu pulang—tanpaku, tak bersamaku, maka aku harus menemanimu hingga detik terakhirmu terlewati. Aku tidak tahu harus seperti apa menyikapinya, tidak pernah mau tahu karena aku tak mau menerima jika batas antara hidup dan mati ternyata semenyakitkan ini, bukan hanya pada yang mengalami, tapi pada yang ditinggalkan pun demikian.
Aku hanya tersenyum timpang, menyaksikan napasmu yang terengal makin terdengar memendek.
Aku hanya menarik napas setenang mungkin melihatmu tersenyum membalasku, ucapan selamat tinggal yang tak pernah terlisan itu sampai padaku tanpa perantara. Tatapan tajammu mulai terlihat luntur dari paras, digantikan tatap nanar yang seolah meminta tolong agar aku bisa membuatmu untuk tetap tinggal—sementara pandanganku mengabur dan bulir-bulir asin mulai berjatuhan membasahi wajah, tahu aku tak bisa membantu.
so long, and goodnight
Lalu kedua iris gelapmu mulai mengatup, meninggalkanku yang masih menggantungkan harapan pada sosokmu yang memudar, dibawa pergi melewat pintu tak kasat mata yang tak bisa kujangkau dengan mata telanjang.
Kedua irisku ingin menguncimu di dalamnya, mempertemukan dua dunia yang kita miliki sendiri-sendiri agar kita bisa bersatu di dalamnya tanpa harus ada yang mengganggu, tapi kedua mataku terlalu berat untuk terbuka, seolah telah bertahun-tahun aku tak tidur dan ini adalah saat dimana aku harus memejamkan kedua mataku tanpa harus ada yang mengganggu—maka aku pun menunggumu untuk menatapku terlebih dulu, membiarkan segalanya terjadi (lagi-lagi) atas kehendak sadarmu yang mengambil alih, meski tatapanku tak lebih dari sekedar pandangan yang sinarnya memudar, secara tak langsung menyakitimu karena melihatku mati perlahan. Hatiku meraung, bertanya mengapa kau tetap melakukannya meski tahu segala hal yang akan segera terjadi tanpa harus terucap terlebih dulu—tapi seketika ada jawaban yang menggantung dalam pikiranku, jawaban mati ketuk palu yang tak boleh dibantah oleh siapa pun; bahkan olehmu, olehku juga.
Buruk sekali, sangat klise dan murah, kata-kata itu. Tapi apalagi yang bisa mewakilkan segalanya ketika semua telah mencapai titik akhir? Aku, kau, dan seluruh semesta tahu kita tak bisa bertindak seenak hati; satu-satunya hal yang bisa kita lakukan hanya memercayai satu sama lain. Bukan iya?
Sekarat itu tidak sakit. Melihatmu menyaksikan kepergianku yang membuat segalanya terasa perih. Air mata yang ditahan itu, senyum yang dipaksakan itu, genggaman yang begitu erat itu, segala kenangan yang mengambang di atas kepalaku membuat segalanya begitu sempurna—menyakitkan, memaksaku untuk menolak takdir yang sebetulnya kuketahui tak pernah bisa kuhindari; seolah satu hembusan napas kini terasa begitu mahal, takut di setiap tarikannya aku tak bisa menghembuskannya lagi.
Lalu air matamu jatuh, mengotori pipi yang tak pernah sekali pun kulihat basah oleh kristal asin, apa pun penyebabnya. Dibandingkan merasa berharga karena kau tangisi, aku justru merasa menjadi seorang pendosa besar yang membuat tembok kokohmu hancur—rusak berkeping-keping dan tak patut dibangun kembali. Terlebih lagi, tanganku tak mampu lagi menghapus bulir-bulir bening itu, justru membiarkannya berjatuhan sampai melewati dagu. Pun, kau tak berusaha menghapusnya, seolah menekankan betapa inginnya kau untukku tetap tinggal.
Itu perintah agar air matamu berhenti mengalir. Bukan pencitraan atau dusta yang kulisankan agar kau merasa tenang, karena aku tahu berbohong disaat seperti ini bukanlah hal yang bisa dibenarkan. Waktunya sedikit lagi, untuk apa dipakai untuk membuat seolah segalanya sedang baik-baik saja?
Begitu kelopak mataku membuka saat pagi menjelang, pasti kau di sana, membentangkan tangan menyambutku dengan senyum sehangat mentari—menggenggam tanganku dan berlari mengitari padang bunga daisy yang wanginya semerbak—impian masa lalu yang belum terlaksana.
Tapi pasti terlaksana. Esok, lusa, suatu saat nanti. Aku dan kau sama-sama tahu itu.


0 Comments:
Post a Comment