Friday, April 12, 2013

#188 semoga bisa dibaca, deh.

Tau sih, judulnya sampah dan sangat nggak menarik, tapi saya bukan tipe orang yang demen frontalin orang kalau lagi kesel. Saya lebih seneng kalau semua orang bisa sadar dari perilaku orang lain dan berubah tanpa harus mengalami fase 'gue-ditegur-dan-difrontalin-sampai-mau-gila. I've ever stood in that position dan menurut saya rasanya gak enak, it's better to reflect on yourself based on how people reacts towards your behavior. Lagipula, berubah karena menyadari sendiri jauh lebih memuaskan ketimbang berubah karena orang lain menekan terlebih dulu. Saya cukup banyak mengalami rasanya difrontalin, disepet dengan cara yang gak bisa dibenarkan, dan menurut saya refleksi yang dibantu dengan beberapa pendapat orang lain secara tidak langsung (dengan postingan blog ini mungkin salah satunya) sangat membantu menyadari kesalahan. Bukan berarti saya suci dari yang namanya kesalahan, tapi at least ada kesadaran yang muncul untuk meminimalisasi hal yang gak seharusnya diperbuat.


Mulutmu harimaumu.

Kadang-kadang ungkapan itu suka dianggap remeh sama orang lain, padahal sesungguhnya dalam kehidupan saya, kata-kata orang sangat berpengaruh pada perilaku saya untuk menanggapi orang lain setelahnya. Bukannya saya cinta mati sama orang yang jagoan ngomong hal yang manis-manis, berbohong bagaimana pun alasannya gak pernah bisa dibenarkan. Kalau memang kamu sebal, ya sudah sebal aja. Kalau kamu marah, ya sudah marah aja. Saya gak pernah mempermasalahkan bagaimana orang bisa mengekspresikan emosi dan perasaan mereka di dunia maya, karena memang itu adalah satu keuntungan dan hak yang bisa mereka pakai kalau gak bisa memverbalkan perasaan lewat lisan. Menurut saya, lho. Karena pada dasarnya saya sendiri pun gak pernah bisa meluapkan emosi dengan cara yang paling benar kecuali menulis, dan selama cara meluapkan emosinya gak menyalahi aturan, saya rasa gak akan ada yang perlu disalahin.

Cuma, terkadang masih ada hal simpang siur yang sebenarnya harus dibetulkan sih. Kalau orang berbicara, bagaimana pun sebetulnya harus bisa memerhatikan keadaan. Gak bisa dibenarkan kan, kalau mereka bicara seenaknya dan gak ngontrol ucapan secara blak-blakan dan orang lain bisa sebal liatnya. Meski mereka pakai embel-embel "ini sih pendapat gue", terkadang kalau kalimat yang mereka pakai terlalu ngeselin buat dibaca, tetep aja gak bisa dianggep oke-oke aja. Selalu ada aturan yang berlaku kalau mau mengemukakan pendapat, gak sekedar "ini subjektif jadinya ya suka-suka gue", tapi harus juga bisa melihat kondisi orang yang akan melihat bagaimana kamu ngomong/nulis. Cara nulis kamu yang sembarangan bisa bikin point of view orang buat kamu berubah, drastis malah kalau di ukuran saya. Terkadang, banyak yang gak mikir betapa pentingnya menjaga perasaan orang lain bahkan lewat kata-kata subjektif yang dibuat; kebanyakan lebih sering menganggap "ya udah, tweet tweet saya, tulisan tulisan saya, terserah saya bodo amat siapa yang lihat.", lalu keluarlah pendapat-pendapat seenaknya di situ, yang tak disadari kadang-kadang bikin respect saya berkurang, padahal sebelumnya gak pernah ada masalah atau hal yang patut diomongin seserius ini.

Tapi, kalau gak ditegur, kapan bisa jadi benar? Saya peduli, makanya saya ingin menegur. Walau kayaknya taraf efektifnya gak bagus-bagus amat karena saya gak berani ngomong langsung soal cara berbicara yang sebetulnya bisa jadi cara aman meski mau mengungkapkan sesuatu yang sifatnya subjektif.

Boleh-boleh aja bilang, "ini pendapat saya, gak usah protes", tapi dukung juga pakai kata-kata yang benar dalam berargumen. Ingat, kamu hidup di dunia yang ditempatin milyaran orang, gak cuma kamu sendiri yang bisa bertingkah seenaknya tanpa peduli bagaimana perasaan orang lain yang ngelihat/ngebaca/tahu. Buat pendapat subjektifmu tetap terlihat baik dan bisa dibenarkan tanpa harus orang lain jadi kesal. Saya, sebagai orang yang sensitif banget, selalu berharap supaya orang-orang bisa lebih beretika dalam berkata-kata. Gak cuma di irl, tapi di dumay juga. Mata boleh gak lihat wujud, tapi stimulus dari tulisan tetep bisa masuk ke hati, makanya hati-hati dan berpikir lumat-lumat sebelum bibir ambil kendali.

Saya banyak mengalami masalah terkait ginian, sampai-sampai rasanya saya jadi terlalu protektif terhadap diri sendiri akhir-akhir ini, menjaga diri supaya gak cepet tersembur karena omongan orang lain. Nggak, gak perlu berbohong kalau mau mengungkapkan perasaan, tapi pakai etika berbicara yang benar, karena tanpa kamu harus kasar, masih banyak cara agar maksud perkataanmu sampai ke orang lain. Jangan sampai orang sakit hati padahal kamu gak pernah bermaksud--sudah gak bermaksud, dosa pula.

Siapa pun yang baca, semoga bisa belajar. Dan buat kamu yang saya tuju, semoga bisa mengerti juga. Saya benar peduli kok makanya sampai nulis begini. Saya gak tega kalau harus negur dengan "hati-hati ya kalau ngomong, agak nggak enak itu kedengerannya." karena saya tahu, kita sama-sama tahu, kalau cara kayak gitu bisa sedikit melunturkan ~feel~ fellas yang udah kita bangun. Mumpung masih bisa belajar, kenapa nggak? Mengontrol omongan memang gak gampang, tapi kalau ada usaha, pasti hasil juga bakalan kelihatan.

Kurangi kata-kata provokatif, sebisa mungkin, masih banyak pilihan kata yang bisa dipakai kalau memang kamu tetap bermaksud menyampaikan apa yang ingin kamu sampaikan. Masih banyak jalan menuju negeri cina, kata orang. Masih banyak jalan buat belajar, bisa jadi. Jangan sampai gara-gara hal ini saya bener-bener mengubah pandangan saya sama kamu. Sesungguhnya, komunikasi paling baik memang secara verbal (langsung mau pun nggak langsung), jangan sampai modal besarnya jadi rusak gara-gara nggak tahu tatakrama berbicara yang benar.

Saya tahu kamu baca, belajar, ya. Anggap saya sebagai teman seperjuangan, karena saya begini karena sudah belajar juga.





Labels: ,



Posted by Taree @ 7:27 PM. 0 Comment .

0 Comments:

Post a Comment




Rewind                     Home                     Fast Forward


Amigos

Arina Listyarini
Pradnya Emeralda
Zaskia Osya Denaya
Tante Inne Larasati
Shafira Anjani
Sista Tamara
Eka Wahyuni
Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here