Friday, February 28, 2014
#249 Antiseptik
AntiseptikG/145 w
Ada wangi antiseptik. Tidak aneh, tidak baru, bukan hal yang sepatutnya digarisbawahi.
Ada aroma khas menguar. Tidak sewajarnya diperhatikan, bukan hal yang seharusnya diingat.
Lucunya, represi ingatan dikalahkan dorongan hati. Logika terendam rasa yang mendominasi. Ada faktor lain yang membutakan dan kita terlalu abai untuk acuh. Ada yang lain, transparansinya nyata tapi selalu dibiarkan begitu saja. Seketika, aroma antiseptik menjadi wangi terbaik yang pernah ada. Bualan khas manusia ketika jatuh terlalu dalam, ketika tak tahu caranya bangkit—tak mau bangkit. Ada banyak opsi, tapi memasang wajah terbaik menjadi pilihan yang sesuai dengan prinsip logika.
Padahal, kau mau berteriak, ya?
Padahal, hatimu meronta-ronta, ya?
Padahal, kesempatan sekali itu ingin kau dapatkan lagi, ya?
Waktu berlalu begitu saja dan wangi antiseptik membawamu kepada logika yang terbutakan. Selalu seperti itu sampai kau sadar semuanya tidak sedang baik-baik saja.
Padahal, itu hanya aroma antiseptik. Apa yang kau harapkan?
Labels: daily, daily life, me, random, real life, written works


0 Comments:
Post a Comment