Thursday, May 28, 2015

#308 3 Best Coming-of-Age Movies

Versi Taree, of course. 

Don't know why I feel like I'm in an urge to post something like this but it feels good to post something after some gloomy posts before (......)

Sebelumnya. Kenapa 3? Soalnya kalau banyak-banyak saya pusing nyeleksinya (nyeleksi 3 aja udah pusing banget ngacak-ngacak harddisk). Kenapa coming of age genre? Karena.... genre ini, entah kenapa, adalah genre yang cocok banget sama saya. Nggak tahu kenapa, insight-nya banyak dan pesan moralnya tuh nancep banget. Entah kenapa kayaknya genre ini sih yang paling bikin saya cepet baper dan susah move on. Wakakaka.  Kenapa film? Karena kalau drama saya rasa saya belum nonton terlalu banyak. (padahal film pun ya segini-gini aja nontonnya bok).

Dihitung pakai countdown saja, yah. Nanti saya akan post dari nomor 3 ke 1, biar klimaks.


3. The Perks of Being a Wallflower (2012) (US)




 This movie is very coming-of-age-ish. Entah kenapa pas pertama saya nonton rasanya saya kembali ke masa-masa di mana saya dulu puber (berasa udah tua gini....). Quotes-nya banyak, dan nyaris semua quote itu seperti perwujudan perasaan-perasaan remaja pada masanya. Real thoughts banget. Logan Lerman played his role very well, so did Emma Watson and Ezra Miller. Kelihatan banget perubahan fase ke fase dan konflik yang disuguhkan pun menarik. You will learn a lot from friendship and young, passionate love. Saya selalu bingung gimana caranya mendeskripsikan film ini dengan oke, tapi setiap saya nonton film ini saya nggak bisa berhenti ngangguk-ngangguk pada setiap part dengan skrip menarik. Ada satu quote dari beberapa gambar di atas yang menurut saya tuh, ya iya banget.

"We accept the love we think we deserve."


Dan yap, untuk ukuran film yang merupakan adaptasi dari buku, film ini termasuk oke banget kalau buat saya. I guess I learn a lot from the story plot.


2. Boyhood (2014) (US)


Ever watched Richard Linklater's movies? I guess it's very typical, like, literally, typical. Entah kenapa saya jadi buat asumsi sendiri di kepala saya kalau Linklater memang menyukai film-film yang temanya sederhana tapi printilannya itu yang bikin nohok. I once watched Before series before (click) and I was very sure that Linklater really likes to pick up some simple meaning from our ordinary life. Saya nggak bakal ceritain proses saya nonton Before Series karena nanti bakal baper banget (uhuk) but let's say Boyhood is the lastest movie from him that got me choked up because IT'S SO BEAUTIFUL DAMN IT. Kalau dari judulnya aja, mungkin udah pada bisa nebak kalau film ini emang sangat sangat coming of age yang nyeritain tentang tumbuh kembang seorang anak laki-laki dari dia kecil sampai dia dewasa. Know what makes it great? Aktor anak laki-lakinya tuh ya emang cuma satu, means, dari kecil sampai dia segede sekarang dia shooting film yang sama. Kalau di film-film lain mungkin pembuatannya bisa lebih singkat, film ini memang bener-bener shooting selama belasan tahun. Jadinya kelihatan banget perkembangan aktor laki-lakinya dari zaman dia masih kecil sampai dia udah gede banget. Lagi, Linklater memang lebih menonjolkan sisi konversasi antar pemain ketimbang konflik atau plot-plot extraordinary yang biasanya ada di film-film lain. Chemistry yang muncul murni dari setiap interaksi apa adanya antara pemain. Ini tuh seperti kalian tengah menonton kehidupan kalian sendiri. Simpel? Yes, but no.

Dari film ini saya bisa ngelihat dinamika kehidupan yang jelas dari seorang anak laki-laki dan keluarganya; entah hubungan dia dengan orang tuanya, hubungan dia dengan siblings-nya, hubungan dia dengan teman-temannya, pandangan dia terhadap dunia, puberty, sampai penyadaran-penyadaran yang dia dapet waktu dia sudah besar. Mungkin kalau kalian nggak suka filmnya Linklater film ini kesannya nggak punya klimaks dan nggak punya konflik, but here... I'll tell you.... the whole movie is the conflict itself and that's what makes the movie beautiful and worth to watch (for me). Buat yang marah-marah karena film ini nyabet penghargaan di oscar..... sorry not sorry... I think it deserves it ;)


1. You're The Apple of My Eye (2011) (Taiwanese)





KLIMAKS PARAH. Nggak bisa sante tiap mau nyeritain film ini, heran juga kenapa bisa kayak gitu. Dari tiga film yang saya review, film ini satu-satunya yang nge zoom-in banget masa-masa sekolah and damn.... feels like coming back to school everytime I watch the movie (   ;   ;)

Tapi tentu saja, intinya nggak terletak di masa sekolahnya aja. Saya bisa simpulin, walaupun setting film ini mostly di sekolah dan jenjang akademisnya, tapi pesan yang jadi inti film ini bener-bener sangat mature dan bikin nyit-nyit... ya gitu lah ya. Kalau mau tahu ya, waktu pertama saya nonton film ini tahun 2012 pas saya deket-deket mau UN dan kelulusan, nangisnya sampai jelek banget... like, jelek banget. bahkan temen-temen cowok saya juga sampe ikutan nangis karena filmnya baper banget HAHAH. Setiap scene dari film ini tuh ada maksudnya. Bahkan dari hal yang sebenernya sederhana banget. Insecurities-nya, young love-nya, semuanya digambarkan dengan sederhana dan elegan. Jujur sampai sekarang saya nonton film ini saya suka bertanya-tanya apa ada ya laki-laki yang sekeren pemain utama di film ini (karena asli... baper-nya sampah banget tiap nonton film ini wakakak)

Coming of age-nya di mana? YHA. Soalnya film ini settingnya lumayan lama, dari zaman mereka sekolah dulu sampai anu (anu???). Banyak pelajaran dan perubahan yang kelihatan dari setiap karakter di fase yang berbeda pula. And... what makes it more beautiful for me... is...

THE METAPHORS.

Yap. Saya suka metafor-metafor yang muncul di film ini. Parallel universe. Kode-kode di antara kedua pemeran utama yang selamanya akan jadi kenangan manis tanpa harus ada dialog. Hal-hal kecil yang akan selalu jadi spesial dan lebih berbahaya bapernya daripada scene-scene ber-skrip. Mungkin itu juga yang bikin saya selalu klepek-klepek setiap kali nonton filmnya ya. Tapi emang nggak ngebosenin, dan akan selalu mengingatkan saya akan masa-masa remaja yang bebas dan menyenangkan. Dan yang terpenting: dari film ini saya paham kalau gak selamanya happy ending itu adalah akhir yang paling baik ;)



udah ah guys kok aku ngerasa aku ngelantur ya nyeritanya

Labels: ,



Posted by Taree @ 12:17 PM. 2 Comment .

2 Comments:

Blogger Fradita Wanda Sari said...

Emang susah deh ya nge-review sesuatu tapi gak baper sama personal feeling kita tiap menikmati karya itu hahaha. I feel you ;)

May 28, 2015 at 3:24 PM  
Blogger Tarinanda A. Putri said...

iya nih, padahal sudah berusaha se-objektif mungkin kalau lagi review, tapi mungkin memang butuh latihan hahaha. thanks for reading! :)

August 30, 2015 at 5:48 PM  

Post a Comment




Rewind                     Home                     Fast Forward


Amigos

Arina Listyarini
Pradnya Emeralda
Zaskia Osya Denaya
Tante Inne Larasati
Shafira Anjani
Sista Tamara
Eka Wahyuni
Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here