Sunday, August 30, 2015
#314 Story of My Life (in one past month)
Akhirnya bisa ganti skin blogger juga! Saya nggak ingat terakhir kali ngeganti skin kapan ya? Desember tahun lalu kah waktu ngebet-ngebetnya sama Ao Haru Ride? Wahaha, udah lama banget. I was absolutely confused with the header options but ended up choosing Rosamund Pike because I adore her so much.Eh. Malah curhat. Sebelum bleber ke mana-mana, let me take you to the (probably) most essential post of the year about my #KKNLife in a past month : )
Bismillahirrahmanirrahim.
Foto di atas ini merupakan foto saya dan teman-teman hidup saya selama sebulan kemarin. Saya rasa saya nggak perlu memperkenalkan mereka satu-satu, karena pada intinya yang ingin saya bagi di sini adalah kebersamaan kami semua dan bukan perseorangan. Mungkin kalian yang baca (kalau ada yang baca....) nggak perlu sampai bertanya lagi kenapa saya sampai bela-belain meluangkan waktu demi ngepost hal ginian... kenapa coba? Yep. Yep yep yep. Because I don't want to forget anything related to them and even if someday I forget I can just open this blog and reread this post ;)
So, bulan kemarin, sekitar akhir Juli, saya akhirnya pergi juga ke sebuah desa di kabupaten Kuningan, tepatnya di desa Ciketak, untuk KKN selama satu bulan. Ada yang masih ingat keluhan-keluhan saya pra-KKN? Emosi-emosi ngeselin sebelum KKN? Saya bahkan jadi crybaby banget tuh sebelum berangkat, takut akan segala-gala hal yang sebenarnya belum tentu juga kejadian. Mungkin untuk sebagian orang pergi ke tempat lain sama aja dengan pindah domisili biasa, apalagi untuk teman-teman yang sebelumnya memang sudah merantau dan nge-kost jauh dari orang tua. Saya yang selama ini anak rumahan banget dan nggak bisa lepas dari suasana keluarga di rumah mendadak stres karena harus lepas dari suasana itu (hehe) dan akhirnya sempet ngerasa stres waktu mau berangkat. Tapi, ya, namanya juga kewajiban. Siapa juga coba yang mijit pilihan KKN waktu KRS semester lalu? Ya saya. Singkat kata, mau nggak mau saya tetap berangkat juga.
Turns out....
It was a very meaningful phase in life. Ya, lebay amat ya nyebutnya phase, tapi dalam sebulan di mana saya "terasing" dari dunia saya yang lama, saya berhasil menemukan dan mengetahui sisi-sisi lain hidup yang mungkin sudah seharusnya saya ketahui sejak lama. Saya belajar banyak. Sangat banyak. Saya belajar nilai kekeluargaan, saya belajar lebih sabar, saya belajar lebih peka, lebih empati, lebih care, lebih menahan ego dan emosi, juga belajar untuk lebih berani dalam mengemukakan pendapat serta berpikir lebih kritis. Gimana ya, hidup bersama 20 orang itu nggak mudah lho. Kamu hidup bersama 20 isi kepala manusia yang, satu aja sudah kompleks, apalagi 20?! Kamu hidup mencoba memahami isi 20 kepala itu dan mensinergikannya dengan isi kepala kamu tanpa kamu menegaskan peranmu sebagai mahasiswi psikologi yang memang selama ini belajarnya soal manusia. Susah? Susah banget. Terutama karena selama ini saya hidup dengan kepala yang "tercetak" sama di kampus, jadi agak kaget menemukan berbagai macam orang dengan pemikiran dan sudut pandang berbeda, serta cara berbicara dan kadar sensitivitas berbeda. Tapi tentu aja saya nggak akan ngepost di sini kalau ternyata saya lose dan menyerah akan challenge itu, toh?
Saya bersyukur bisa disatukan dengan teman-teman yang di atas tadi. Lewat mereka, saya belajar banyak. Saya harap mereka juga belajar banyak. Lewat mereka, saya bisa jadi lebih bahagia. Saya harap mereka juga bisa lebih bahagia sebulan kebelakang. Lewat mereka, saya jadi "buka jendela" tentang dunia-dunia yang belum saya pijak, dan saya harap mereka pun begitu. Lewat mereka saya menemukan keluarga baru, di mana hal-hal jelek busuk aneh lucu mengerikan dan creepy sekali pun saya jadi tahu. Ekspresi yang baru bangun tidur, ekspresi yang kelaparan, wajah-wajah sedih dan ngantuk, wajah-wajah malu, senang, wajah-wajah rindu keluarga dan pasangan, wajah-wajah galau, wajah-wajah ketawa paling jelek karena jokes paling receh sedunia... wajah-wajah jatuh cinta....
Seminggu pertama rasanya cukup lama, apalagi di minggu pertama kerjaan saya menghitung waktu terus. Berasa orang di penjara yang tiap hari kerjaannya hitung berapa hari lagi sisa waktu di sana. Minggu kedua sama ketiga adalah minggu-minggu hectic yang bikin saya sempet lupa sebetulnya saya di sana ya cuma sementara. Minggu terakhir adalah minggu yang paling paradoks--paradoks karena di satu sisi seneng mau pulang tapi di sisi lain sedih karena harus pisah sama teman-teman seperjuangan. Kami memang nggak berjuang seperti pejuang zaman perang atau mereka yang kekurangan air atau bahan makanan; kami memang hanya sekadar berjuang menghitung pengeluaran dan menentukan menu masakan tiap hari, atau rebutan nomor antrian kamar mandi, atau menghitung-hitung jatah listrik supaya nggak ngejepret, atau sekadar jalan beberapa meter ke rumah kepala desa untuk numpang mandi, tapi semua perjuangan kecil itu tentu saja akan meninggalkan bekas, bekas yang selamanya nggak akan saya dapatkan dengan kehidupan saya yang sekarang ini--di rumah, di kota, listrik cukup dan internet tanpa kuota, kasur empuk dan cuci baju pakai mesin cuci. Di sana saya belajar berbagi dan mengerti. Saya belajar merasakan dan beraksi. Nggak sekadar merasakan dan membantu lewat isi kepala juga, tapi terjun langsung menjadi individu yang punya andil dalam membahagiakan diri sendiri dan orang lain. Semoga salah satu, atau setiap-tiap dari kalian bisa merasa sedikit lebih bahagia karena bisa KKN bareng ya : )
Hal yang paling bikin saya bangga soal kehidupan KKN saya kemarin adalah tentang bagaimana kami bisa tetap "hidup" dengan berbagai kekurangan yang semestinya sih dikeluhkan. Kami hidup 30 hari tanpa tv. Kami dituntut untuk menyejahterakan dan menghibur diri kami sendiri dengan hal-hal yang ada di sana; dan tentu saja yang paling possible untuk dilakukan tiap hari dan gratis: interaksi. Mengobrol. Ngomongin hal-hal dari yang paling beresensi sampai yang receh (yang ini tentu aja paling banyak), dan kita berhasil, we made it. Kami tidur berempat dalam satu kamar, berhimpitan, kaki kadang nggak kedapatan kasur dan bangun badan bisa pegal-pegal karena postur tubuh yang nggak nyaman dipakai tidur. Saya nggak tahu kondisi yang teman-teman laki-laki, but I guess it was the same, too. But we survived and we could still laugh at the end of those thirty days, ya? Kami belajar tanggung jawab dengan jadwal piket dan kewajiban tugas perseorangan yang mungkin selama ini di kota nggak pernah benar-benar dipraktikkan karena kami biasa hidup enak. Kami harus jalan berkilo-kilo meter dari rumah menuju jalan raya, harus naik kendaraan umum untuk ke kota kalau memang butuh, harus pintar-pintar milih bahan makanan yang nggak cepat busuk karena kami nggak punya kulkas selama 30 hari. And we survived. Banyak orang yang kabur-kaburan dari dunia KKN-nya karena nggak betah akan kondisi ini, mencari zona nyamannya yang hilang, tapi kami berhasil tetap utuh tanpa ada yang ngerasa "capek" atau "nggak kuat" (koreksi kalau saya godmod ya :( )dengan bekal interaksi recehan tiap hari itu. Bangga? Kalau saya sih, bangga. Hehehe.
Thank you guys. Jadi nyesel sebelum berangkat sampai nangis-nangis nggak mau pergi. Terbayar sudah kekhawatiran saya pra-KKN dengan kepuasan yang nggak akan pernah terbayar di esok-esok hari. Sukses sama-sama, ya. Jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing, ingatlah hari ini.
got something for you:
See you soon, my bests!
Labels: college, college life, friendship, KKN, life, me, photos, rants, real life





























2 Comments:
Seru banget kayaknya KKN nya. Profil blogger di samping kiri jg di-update ya? Aku juga sukaaa sama Tetangga Masa Gitu. Mas Adiiii <3
Halo! Terima kasih ya sudah jalan-jalan dan membaca :)
Iya nih, KKN-nya menyenangkan dan nggak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Seneng banget deh =) btw, iya saya suka banget nih sama TMG, paling suka disney couple Bintang x Bastian huhuhu <3
Post a Comment