Sunday, April 21, 2013

#190 gini nih, golongan darah A kalau lagi moodswing.

Nyempetin banget mau cuap-cuap di sini sementara masih ada dua sub-bab lagi yang belom kesentuh buat UTS statistik besok. (hore). Gak tau kenapa, saya dari dulu sayang banget sama blog ini. Kadang-kadang, ia bisa mendengarkan kamu lebih dari siapa pun walau di akhir kamu cerita, kamu cuma bisa balasan lewat pampangan tulisanmu di halaman browsermu. Kadang-kadang, cerita tanpa ditanggapi mungkin memang solusi paling baik. Seenggaknya, buat saya sih.

Saya ini kayaknya penganut golongan darah A sejati, dan gen yang paling dominan kerasanya kalau saya lagi sensitif. Beberapa hari ini, saya lagi sensitif karena mendekati hari-hari sakit perempuan bulanan, diperparah dengan UTS dan banyaknya hal yang kudu diurus. Dari semua sensitivitas yang saya dapetin, entah kenapa saya paling cepet tersulut oleh kata-kata orang lain. Di situasi bagus, kayak gini mungkin bisa dianggap sebagai modal bagus,tapi kalau posisinya nanggung banget kayak gini, rasanya saya udah nyaris berubah jadi godzilla saking sensitifnya. Mau gak mau, pepatah mulutmu harimaumu benar-benar kerasa jadi fundamental banget buat saya. Karena no matter the reason behind it, your words represent YOU. Itu impresi pertama yang nempel, kan? Saya sebenernya gak masalahin subjective opinion, tapi saya suka cepet kesel kalau cara ngungkapinnya gak bisa dibenarkan.

Saya insecure, benar. Kenapa saya insecure? Karena saya paling takut kalau ada hubungan gak enak kejadian gegara saya salah ngomong, padahal maksud saya gak kesana. Saya selalu berusaha untuk ngukur sepantas apa saya harus menggunakan manner untuk komunikasi sama orang lain, gak hanya dengan "ya udah, ini emang caraku begini, lagian tujuannya kan gak gitu.", karena pernahkah kamu mikir, berapa orang yang akan langsung sadar kalau kamu memang begitu? gak semua. berapa orang yang langsung mengerti kalau tujuanmu ke sana, bukan ke sini? Itulah kenapa saya bilang cara kamu berbicara adalah representasi siapa kamu. Bener, saya bukan orang yang mempermasalahkan masalah kecil semacam pendapat pribadi atau gimana setiap individu menyampaikan unek-unek mereka. Nggak, saya juga kenal HAM, kok. Tapi gimana kamu menyampaikannya, itu yang akan membuat bagaimana impresi orang terhadapmu berubah.

Contoh. Saya ambil contoh dari gimana saya ngungkapin pendapat aja ya. Bandingkan ini

"SH/T, B/TCH, KENAPA HARUS NA-EUN YANG JADI SAMA TAEMIN? F/CK. Benci banget gue sama dia! Gak sudi!"


dengan,

"Yah, saya dari awalnya emang gak suka sama Naeun, jadinya ya denger beritanya pun.....gitu."


Sumpah. Kalau saya baca statement yang di atas, saya pasti langsung mikir "gak ada kalimat lain yang bisa ngegantiin kalimat itu apa buat nyatain pendapat?" sama seperti gimana saya bereaksi kalau ada yang ngomong kasar seenaknya, gak disaring cuma buat nyatain kalau mereka benar-benar lagi emosi. Kayaknya, terlalu dasar untuk dibicarain, tapi sesungguhnya hal kayak gitu benar-benar mempengaruhi bagaimana kamu terlihat oleh orang lain.

Ya, untuk beberapa orang, contoh yang saya kasih tadi emang kadang gak berefek apa-apa. Tapi itu karena sudah ada faktor lain; seperti misal ternyata kamu sudah kenal dekat dan tahu benar kalau dia ini seperti itu dan benar-benar sudah bisa nerima dia dengan sikapnya yang gitu, atau memang kamu tidak sesensitif saya dan orang sensitif lainnya.


Tapi, saya selalu menganut sistem yang preventif, ketimbang kita menanggulangi, bagusnya mencegah, kan?

Ingat, kadang-kadang luka yang dibuat itu memang sembuh luarnya. Tapi kita gak akan lupa kalau kita pernah luka. Sesimpel itu.

Saya minta maaf seandainya sensitivitas saya yang kepalang berlebihan hormonnya ini mengganggu, benar, saya minta maaf. Kadang saya iri kok sama orang yang bisa berlalu gitu aja dengan segala kondisi yang datang dan pergi, tapi saya enggak. Tapi, apa gunanya maaf kalau kita gak belajar? Interaksi itu terjadinya dua arah, gitu juga dengan rasa saling mengerti. Saya, dan semua orang masih perlu belajar. Intropeksi diri itu perlu, supaya hatimu gak sakit terus-menerus. Kata dosen saya, hati itu diciptakan Tuhan memang untuk sakit. Tapi apa tujuannya? Supaya manusia belajar gimana melindunginya biar gak sakit dua kali.

Labels: ,



Posted by Taree @ 3:39 PM. 0 Comment .

0 Comments:

Post a Comment




Rewind                     Home                     Fast Forward


Amigos

Arina Listyarini
Pradnya Emeralda
Zaskia Osya Denaya
Tante Inne Larasati
Shafira Anjani
Sista Tamara
Eka Wahyuni
Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here