Perempuan. Lahir dan besar di Kota Kembang, tetapi tinggal di sudut kota. Selamat dari jenjang perkuliahan, tetapi belum kapok untuk belajar lagi.
An old-styled one. Anak rumahan yang menyenangi hal-hal sederhana; seperti buku, musik, dan film. Menikmati segala macam genre film kecuali horor (lihat review-reviewnya di sini), musik pop punk/pop/rock (bisa diintip di sini, dan berbagai macam genre buku (lihat reviewnya di sini). Punya hobi membaca dan menulis, kadang graphics-editing dan decorating things. Socially awkward tapi kadang jatuhnya jadi kelihatan jutek/galak, but, (said the closest ones) a caring person.
Punya selera musik yang standar, tapi isi playlist kebanyakan masih pop-punk & rock. Kadang masih fangirlingan K-Pop juga. Genre favorit film saat ini adalah coming-of-age dan thriller.
Sebelumnya maafin kalau ternyata judul postingan sama isi postingan bakal jauh berbanding terbalik saking nggak mutunya. Hal apa yang pertama kali mampir di pikiran kalian ketika baca titel? Translasi harafiah ke dalam bahasa Indonesia? Curhatan?
Bukan, tapi judul lagu. Iya, yang ini.
Lantas, kenapa dibikin postingan?
Jadi... sudah beberapa minggu ini, kayaknya saya menularkan racun yang sebenarnya sih berasal dari lagu ini. I mean, siapa yang nggak tahu nada khas the final countdown, sih? Tinggal "teneneneeet tenenenenet~" juga dengan nada khasnya semua orang pasti tahu. Hal ini sih yang sebenarnya saya lakukan sampai akhirnya jadi virus beneran. Pertamanya sih saya cuma sering senandungan geje lagu ini kalau lagi di bus, jadi korbannya cuma Rahma doang emang dia paling rawan jadi korban keganasan saya sih, maapin. Awalnya, dia nggak papa. Seminggu kemudian, dia mulai menunjukkan tanda-tanda ketularan. Sekarang, dia jadi penerus saya dalam meneruskan virus ini ke semua orang (.....)
Maapin. Beneran.
Saya pikir, I'd end up taking this as joke dan nggak ngapa-ngapain lagi. Tapi, entah kenapa kok jadinya keterusan?
A: "Astaga, lupa bawa buku!"
B: "eleuh siah!" (terus tenenet-tenenenenet kayak orang sinting di Gazebo)
A: (ngelanjutin senandungan sinting saya barusan)
Terus, ada korban yang kena sindrom TFC paling parah, yaitu Zaza, yang tiap saya humming geje, tanpa aba-aba langsung ngelanjutin lagunya. Sekarang-sekarang malah dia mulai duluan senandung-senandung lagunya.
Ya Allah, maafkan Tari.
Tapi kok jadinya lawak beneran dan saya gak bisa berhenti nyebarin virus ini karena lama-lama senandung lagu ini udah jadi habit. Kasihan juga sih sama temen-temen yang kena sindrom, tapi.......
0 Comments:
Post a Comment