Saturday, December 28, 2013

#222 [!!! SPOILER] (emotional) ramblings about Reply 1994


Sebelumnya, kalau yang belum nonton dramanya atau lagi on-going menuju ending dramanya, bagusnya sih gausah baca ya daripada jadi bias atau rusuh duluan dan hatinya jadi angin duluan kayak saya.... soalnya ini kayaknya bakal banyak spoiler karena saya as writer abal nggak bisa mengabaikan endingnya untuk diceritakan dan dikaitkan dengan plot yang udah dibangun.

Jadi... gini....

SAYA KECEWA DAN MARAH BANGET SAMA ENDINGNYA REPLY 1994 OTL OTL OTL.

I guess I put too much hope on this drama sampai-sampai kayaknya ekspektasi saya melambung jauh soal reply series. This is just another mainstream drama dengan fokus yang lebih gila pada "how to troll watchers" daripada "how to build characters and plots themselves".

Jadi, seperti yang udah kalian tau (saya asumsiin yang baca post ini udah nonton atau udah tau ending reply 1994, nggak tanggung yang belum nonton dan maksa baca), suaminya Najeong itu Trash, bukan Chilbong. Ini bikin saya kesel setengah mati, sih. Bukan karena saya kesel sama Trash, tapi karena plot dan misteri yang dibangun sama script-writer gak kekupas tuntas dan memuaskan. Saya dengar dari beberapa posters, pengambilan ending untuk suaminya Najeong ini juga bertumpu pada kecenderungan navers yang lebih suka Trash (mendominasi) daripada yang suka Chilbong.

Yang bikin saya kesal, kenapa clue yang dibuat ini harkos banget (......) jadinya. Dan peran Chilbong di drama ini jadi mentah dan nggak meaningful yang bisa dibayangkan. Nggak ada pesan jelas yang dikasih di drama ini seperti yang kudapat waktu aku nonton Reply 1997 tahun lalu, dan peran Chilbong di sini jatuhnya jadi lebih trashy daripada peran teman-teman yang lain (Binggeurae, Yoonjin, Sam Cheon Po, dan Haitai). Dia kosong identitas, dia banyak hilang di episode-episode krusial, dia nggak mendapatkan hasil setimpal dari apa yang dia usahakan dan dia jadinya kayak muncul for nothing. Buatku, lho. Lagi, kayaknya keputusan sw untuk menjatuhkan pilihan pada trash ini juga gak berdasar dari awal cerita, tapi dari beberapa pengaruh (termasuk rating dan pendapat navers); jadinya nggak objektif banget dan sangat sangat dangkal.

Ini mungkin (dan kayaknya emang) subjektif banget ya, apalagi buat #teamtrash, tapi saya ngerasa script-writer terlalu memadatkan plot pada teka-teki untuk penonton yang nggak diimbangi dengan solusi yang "wah". Drama nggak mainstream, misalnya, atau beberapa scene yang sebenarnya bener-bener bisa jadi clue kuat tapi nggak ada penjelasannya di ending. Yang terpenting, pesan dan makna dari drama ini tuh jadinya kosong.

Maksudnya, coba deh. Moment tahun baru 1995, 1996, dan bahkan milenium baru, 2000, dihabiskan Najeong sama Chilbong (bahkan ketika tahun baru 2000 Trash nggak datang). Momen-momen miracle yang seharusnya jadi titik krusial buat plot, dilewatkan dengan twist yang sesungguhnya tidak sangat menjelaskan kecuali dengan alasan "kalau sama Chilbong di episode 21 padahal Najeong nggak nunjukkin perasaannya di episode2 sebelumnya jatohnya maksa".

Kalau mau jahat-jahatan sih, bener, Chilbong should've died from the start and the drama must've ended in 16th episode.

Selain momen tahun baru, coba cari penjelasan lain yang nggak janggal mengenai pernyataan cintanya Chilbong yang udah kejadian dua/tiga kali (pertama di terminal sam cheon po new year 1995, kedua di winter sebelum dia pindah ke jepang, ketiga waktu nganter najeong ke rumah sakit). Scene-scene krusial ini.... mau dibawa kemana? Ketika Najeong bisa dengan mudahnya dapet Trash dan Trash nggak sama sekali "bertarung" dalam keadaan Chilbong berusaha setengah mati, Chilbong tetap kalah dan pesan yang tadinya kupikir jadi highlight drama cuma jadi script yang (kayaknya) tertimbun gajadi direalisasikan.

Dan paling jahat, setelah Chilbong nunggu dari 1994-2002, yang dia dapat tetep bad ending?

(................................................)

I guess the script-writer doesn't believe in miracle or hardwork. Sebenernya nggak kebayang banget ya pola pikir si script-writernya ini kayak gimana, tapi, untuk ending yang diberikan berupa Najeong yang direbutkan dua laki-laki; yang satu berusaha setengah mati dan rela nunggu nyaris delapan tahun, sementara satunya lagi nggak berusaha mempertahankan atau apa--ini kelewatan mengesalkan.

as people wrote on tumblr:

"But to lose to someone that don’t even play the game, this is suck."

 Saya bahkan udah kesal dari scene dimana Trash menyatakan perasaannya ke Najeong hanya karena Chilbong ngaku kalau dia juga suka sama Najeong. Ini..................minta digebuk apa gimana.

(tarik napas dalem-dalem)

Oh iya, ini emang tulisan sampah dan subjektif sih, jadi maaf banget kalo agak2 nganu (....) buat yang baca. Saya pikir emang reply 1997 adalah seri drama korea terbaik yang saya pernah tonton. From the start I've been away from kdrama because it's getting too much, and watching reply 1994 to an end like this just make me think maybe it's true---korean drama is that typical.

Japanese is still my favorite.

Labels: , , , ,



Posted by Taree @ 10:16 PM. 0 Comment .

0 Comments:

Post a Comment




Rewind                     Home                     Fast Forward


Amigos

▲ Arina Listyarini
▲ Pradnya Emeralda
▲ Zaskia Osya Denaya
▲ Tante Inne Larasati
▲ Shafira Anjani
▲ Sista Tamara
▲ Eka Wahyuni
▲ Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here