Tuesday, March 4, 2014
#251 Suatu Waktu Ketika
Suatu Waktu KetikaG/362 words
Ada suatu waktu, ketika aku menangkap bayangmu namun tak berani menatap, ketika menulis surat namun kuremas di telapak, ketika berjalan melewatimu dan kepala ditundukkan layaknya budak sukarela, aku melewatkan responmu. Takut, alibiku. Aku bukan siapa-siapa, hanya satu dari ratusan orang di sekelilingmu yang kebetulan tahu nama dan sedikit asal-usul, membusungkan dada menyimpan suka yang bertahun-tahun tak tersampaikan. Pemuja rahasia ulung yang kadang tak tahu diuntung, yang geram sewaktu melihatmu kelelahan dan jemu di sela aktivitas tapi tak kunjung berbuat apapun, yang meredam tawa kala senyummu membutakan sinar matahari. Ada suatu waktu, ketika kamu hanya menyapaku satu kali dan aku kegirangan setengah mati, dihantui mimpi dengan harapan kosong yang menguras peluh dari pelipis. Ada suatu waktu, ketika aku ingin mengatakan suka tapi prinsip tahu diri bak palang melintang melarangku habis-habisan. Ada suatu waktu, ketika aku menatapmu dari kejauhan, sedang tertawa bersama teman-temanmu dan melangkah mengabaikan presensiku. Waktu berjalan lambat kala kita berpapasan, meninggalkan aku yang terdiam dengan sejuta kalimat bertumpuk di ujung tenggorokan, urung dikeluarkan.
Ada suatu waktu, waktu ketika aku memujamu.
Ada suatu waktu, ketika eksistensimu membuyarkan prinsipku untuk berhenti peduli dan logika mau-maunya dikalahkan hati nurani. Ketika kita berpapasan dan kamu tak berani menatapku, ketika remasan kertas kudengar dari balik telapakmu, ketika kepalamu ditundukkan dan aku mati-matian menahan diriku untuk tidak memintamu untuk berhenti melakukannya. Ada suatu waktu, ketika presensimu akhirnya menjadi tato permanen di dalam lubuk, ketika namamu kulisankan berkali-kali separuh berbisik di sela tingkah dan gelagatmu yang lucu, ketika aku puluhan kali mempertanyakan apakah kamu sedang memikirkan hal yang sama denganku—melisankan namaku berkali-kali seperti orang gila layaknya aku ketika itu. Ada suatu waktu, ketika tawaku lolos di hadapanmu tatkala kita kembali berpapasan, isyarat yang kuberikan kalau aku ingin melihat tawamu juga. Ada suatu waktu, ketika aku melihat senyummu dari balik punggung yang telah menjauh kala sapaan singkat itu meluncur tanpa disadari. Ada suatu waktu, ketika aku tahu kamu ingin mengatakan suka tapi tertahan, ketika aku ingin menyatakan tapi tak sanggup, ketika kita ingin mengungkapkan tapi belum bisa. Ada suatu waktu, ketika kita berpapasan dan perasaanmu menguar dari balik gestur mungil tubuhmu.
Ada suatu waktu, ketika kamu memujaku dan aku tahu.
Labels: fiction, fluff, random, written works


0 Comments:
Post a Comment