Thursday, March 27, 2014

#252 Itazura na Kiss~ Love in Tokyo & Reply 1994

ngepost selagi sempet ngepost setelah sekian lama

Yak. Jadi, sesuai dengan judul, saya kali ini mau agak sedikit ulas balik dua drama yang terakhir saya nonton. Sebenernya, saya nonton Reply 1994 duluan sih itu dari akhir tahun 2013, Itazura na Kiss~ Love in Tokyo baru marathon dari Minggu kmrn (23/03) dan selesai kemarin (26/03). Dua feelnya masih lengket banget dan saya kesannya susah move on banget dari drama ini atau emang beneran?


Reply 1994 (2013)

Ada yang udah pernah nonton Reply 1997? Kalau sudah, pasti ketahuan lah kalau Reply 1994 ini semacam sekuel/versi lainnya Reply 1997. Settingnya lebih tua, tahun 1994, dengan segala konflik dan sejarah yang menurut saya paling jadi instrumen krusial. Khas script-writer reply series, setiap episode selalu punya esensi yang bikin emosi kecampur aduk. Ada yang bikin senyum-senyum, ketawa, nangis, bahkan marah. saya banyak banget marah sama drama ini btw =))

Plot drama ini sebenarnya punya beberapa kemiripan dengan Reply 1997, yaitu seorang gadis yang punya obsesi terhadap sesuatu yang lagi booming banget waktu itu. Kalau tahun 1997 itu tahun-tahun di mana musik K-Pop lagi mulai meledak karena H.O.T, setting 1994 ngambil klub basket Yonsei sebagai pusat kehebohan pemeran utama perempuannya. Seiring waktu, setting soal basket ini pudar karena plotnya makin rumit antar karakternya. Padahal sayang banget ya, dengan plot itu akan lebih kelihatan khas 1994-nya sih.

Ini adalah drama Korea kedua yang saya nontonnya sambil kejar-kejaran. Pertama, tetep, Reply 1997. Kebayang nggak sih, setiap minggu kerjaannya mantengin web nungguin update-an, subtitle, terus tiap weekend nonton sambil gigit-gigit bantal. So far, saya nggak bisa bilang saya nggak suka sama drama ini. Selalu ada plus minus kalau mau dibandingkan sama generasi awal, tetapi selalu ada hal baru yang entah saya bisa nemu di mana lagi selain di drama ini. Gimana ada nilai-nilai implisit di balik setiap judul dan cerita, gimana script-writer bisa banget mainin hati penonton yang nggak tahu bentuknya udah kayak apaan. Karakter-karakter di Reply 1994 ini tergali lebih dalam daripada yang Reply 1997, imo, walaupun secara plot utama, menurutku Reply 1997 lebih nabok dan bikin nggak move on terinspirasi.

Ada beberapa lack yang kayaknya disebabkan sama "keinginan tv untuk dapat rating tertinggi" yang membuat plot utamanya menurut saya jadi agak acak-acakan di akhir dan terkesan dipaksakan, tapi penggalian karakter di setiap episode nggak bisa bikin saya bilang kalau drama ini jelek. Setiap episode bisa bikin saya ketawa di detik a dan langsung nangis detik berikutnya. Gimana ya, drama ini tuh smart banget. Settingnya unik, who else would take 1994 as the set? Plus, nggak cuma tahun aja yang disorot, tapi apa yang jadi highlight di tahun-tahun itu. Kejadian penting politik, krisis moneter, perkembangan musik, drama, semua-muanya. Detil, dan itu selalu jadi kelebihan drama ini yang nggak dipunyai drama lain.

Ada satu scene favorit saya di drama ini, yang entah sampai kapan selalu bikin saya merinding tiap nonton ulang sambil denger soundtracknya.


Episode 12. Saya lupa judul episodenya apa, tapi kalau nggak salah berhubungan sama peluang/kemungkinan. Di episode ini, diceritakan ada kejadian buruk yang menimpa Korea, yaitu runtuhnya sebuah pusat perbelanjaan yang menelan banyak korban jiwa. Karakter utama laki-laki, Trash Oppa, yang juga seorang dokter, sebelumnya tengah merawat seorang pasien perempuan yang mengidap penyakit berat (Kanker kalau nggak salah), dan bertemu dengan suaminya. Mereka, kebetulan, memakai jam tangan yang sama persis. Karena itu juga Trash Oppa ini jadi selalu ingat pada bapak tersebut, juga istrinya yang sedang dalam masa penyembuhan.

The point is, ketika pusat perbelanjaan itu runtuh, Trash Oppa menangani kedatangan korban-korban dari reruntuhan yang kebanyakan sudah meninggal. Satu dari korban meninggal itu ternyata bapak yang juga suami dari perempuan yang menderita kanker, yang pakai jam tangan kembar sama dia. (Ini poin peluang pertama). Saya sampai nangis di situ.

Second, waktu pusat perbelanjaan runtuh, karakter utama perempuan, Najeong, punya janji untuk makan sama-sama dengan Chilbong (karakter utama laki-laki) di pusat perbelanjaan tersebut. Kagetlah ia, tahu pusat perbelanjaan yang mau dia datangi dikabarkan runtuh. Waktu Najeong heboh nyari Chilbong di depan puing-puing pusat perbelanjaan itu, ternyata Chilbong ada di luar, selamat, nggak luka. Mereka langsung pelukan dan Najeong nangis. Sepersekian detik aja Chilbong nggak keluar, mungkin dia udah mati. (Poin peluang/kemungkinan kedua)

Third, dan yang paling bikin saya nyut-nyutan, adalah waktu Trash Oppa jemput Najeong di depan rumahnya. Sebelumnya, Najeong menawari Trash Oppa untuk nonton musikal sama-sama, tapi sempat ditolak dengan alasan selera. Najeong, (yang di sini diceritakan naksir berat sama Trash Oppa), pasrah aja tahu niatnya nonton musikal batal. Tapi, tahu-tahu Trash Oppa jemput dan ngajak nonton musikal. Mereka berjalan gandengan spt di screencap yang saya kasih. Ada satu quote yang entah, nggak tahu kenapa, di sini kedengeran "DHUAR" banget.

Among ten billion, what is the probability that the person I love will love me back?"


#DHUAR #DHUAAAAAAAR

Nggak tahu lah ya, karena saya nggak pintar menjelaskan dan cepet blending, coba aja ditonton biar tahu feelnya kayak gimana.


Itazura Na Kiss~ Love in Tokyo (2013)

Another manga-based drama. Saya pernah beberapa waktu baca manga-nya tapi nggak selesai, dan udah sempat ngintip drama yang aslinya tahun 1996, tapi nggak selesai juga nontonnya. Itakiss yang 2013 ini gembar-gembor parah, tapi saya baru sempat nonton sekarang dan after effect-nya masih nyisa......

Tipikal plot shoujo banget, kalau mau simpel. Seorang gadis bodoh yang suka sama laki-laki paling pintar di sekolahnya, yang sayangnya arogan parah. Gadis ini (Kotoko) pernah confess dan ditolak sama laki-laki ini (Naoki). Dipikir ceritanya cuma sampai sana, tapi ternyata Kotoko sama Naoki malah tinggal serumah (....) Shoujo banget, kan?

Entah, saya suka banget drama ini karena sebenarnya karakter perempuannya ini annoying banget buat saya dari segi karakternya. Happy-go-lucky-nya sih bukan masalah, tapi Kotoko ini agresif parah tapi masih kelihatan cute. Kayaknya kalau dimasukkan ke karakter drama negara lain saya langsung ilfeel. Hebatnya, drama Jepang bisa aja bikin saya nggak kenapa-kenapa sama tipe karakter yang sebenarnya nggak saya suka.

Saya suka banget sama drama ini karena... gimana ya, sebenarnya ceritanya nggak sekompleks Reply 1994 karena ini juga adaptasi dari manga, tapi drama ini progresif banget. Kelihatan banget progres hubungan Naoki sama Kotoko dari awal ke akhir, gimana akhirnya Kotoko yang awalnya bukan siapa-siapanya Naoki malah jadi istrinya #dhuar. Akting Furukawa Yuki sama Miki Honoka juga jempol saya sampe sakit perut liat scene-scene krusialnya.




SAYA FETISH BERAT SAMA POSTUR PAIRINGNYA YA ALLAH.

Shoujo manga punya beberapa kriteria khusus yang kayaknya bakal jadi "poin penting". Misal, karakter perempuan selalu diceritakan jauh lebih pendek daripada laki-laki, dan laki-lakinya jangkung kurus menjuntai kayak tiang listrik. Di sini, Furukawa Yuki (yang jadi Naoki Irie) dan Miki Honoka (yang jadi Kotoko Aihara) punya postur yang subhanallah luar biasa itu postur kesukaan saya banget. Hononon tingginya cuma sedadanya Yuki dan kalau ada adegan fluff semacam pelukan itu hati saya langsung pecah habis lucu banget nggak kuat T////////////////T

(MALAH CURHAT???)



#GAGALMOVEON

Pokoknya, yang suka tipikal-tipikal cerita macam shoujo manga, sayang banget kalau ngelewatin drama ini kayak saya. Season 2-nya udah mau tayang Mei nanti tapi saya baru nonton yang season 1 hehe. Tapi nggak apa, nggak nyesel karena ini tuh drama yang sebenarnya---saya banget. Fluff, manis, ya gimana sih tipikal manga-manga shoujo yang manis-manis.


Kalau ditanya saya lebih suka drama Jepang atau Korea, saya masih mengunggulkan drama Jepang sejauh ini. Selama saya nonton drama Korea, yang ngebekas paling lama itu Secret Garden sama Reply Series aja (1994 dan 1997), sementara kalau soal drama Jepang, saya bisa nyebutin banyak yang ngebekas sampai capek. (....) Selera, yes, tapi entah saya suka aja esensi yang ditawarkan drama Jepang. Sederhana, unik, tapi pesannya tetap sampai dan nggak pernah muluk. Btw, itazura na kiss ini versi asli dari drama Playful Kiss-nya Korea lho. Banyak yang sudah nonton, kan? Kira-kira semacam itu, walau saya sendiri belum nonton Playful Kiss.

Sekian aja deh curhat gak penting dari saya yang lagi mabok Itakiss ini.



Ada yang mau berita tambahan/curhatan tambahan?

Saya masih syok lho ternyata Yuki lahir 1987 dan Hononon lagir 1997. BEDA 10 TAHUN LHO YA ALLAH DUNIA INI CUMA ILUSI KAH?

Tapi asli cocok banget kalau mereka jadian betulan aku dukung kok.

Labels: , , , , , ,



Posted by Taree @ 10:07 PM. 0 Comment .

0 Comments:

Post a Comment




Rewind                     Home                     Fast Forward


Amigos

Arina Listyarini
Pradnya Emeralda
Zaskia Osya Denaya
Tante Inne Larasati
Shafira Anjani
Sista Tamara
Eka Wahyuni
Irham Ramadhan

Archive




Credit

Cursor by Cursor 4u. Background: x x x Powered by Blogger. Original skin by Arina and another credit from her here