Perempuan. Lahir dan besar di Kota Kembang, tetapi tinggal di sudut kota. Selamat dari jenjang perkuliahan, tetapi belum kapok untuk belajar lagi.
An old-styled one. Anak rumahan yang menyenangi hal-hal sederhana; seperti buku, musik, dan film. Menikmati segala macam genre film kecuali horor (lihat review-reviewnya di sini), musik pop punk/pop/rock (bisa diintip di sini, dan berbagai macam genre buku (lihat reviewnya di sini). Punya hobi membaca dan menulis, kadang graphics-editing dan decorating things. Socially awkward tapi kadang jatuhnya jadi kelihatan jutek/galak, but, (said the closest ones) a caring person.
Punya selera musik yang standar, tapi isi playlist kebanyakan masih pop-punk & rock. Kadang masih fangirlingan K-Pop juga. Genre favorit film saat ini adalah coming-of-age dan thriller.
Okay. Jadi sebenarnya saya sengaja ngasih titel begitu biar to the point; se-upfront-nya saya di postingan ini. Silakan baca kalau berkenan dan kalau nggak berkenan dari awal karena sensitif sama judul, saya gak mau tanggung ya, soalnya ini hanya postingan dari point of view saya sebagai seorang individu yang setiap hari naik kendaraan umum untuk beraktivitas rumah-kampus maupun rumah-destinasi lain.
Intinya, saya sebel banget sama orang yang ngerokok di tempat umum, utamanya sih kendaraan umum. Kalau di tempat umum lain, saya masih mungkin menghindar, tapi kalau di kendaraan umum, entah, rasanya bener-bener kesel dan sebel aja, seolah-olah kendaraan itu milik mereka yang merokok saja. Padahal, ada orang yang nggak merokok. Padahal, ada yang nggak suka rokok. Padahal, ada yang napasnya jadi sesak-sesak kalau nyium asep rokok. Saya, misalnya. Sudah tahu istilah perokok aktif dan perokok pasif, kan? Saya nggak mau jadi seorang perokok pasif. Saya nggak merokok bukan tanpa alasan, dan saya nggak merokok bukan untuk menjadi perokok pasif. Sorry to say kayak gini, tapi literally itulah yang saya pikirkan. Ngomong kayak gini bukannya saya nyuruh perokok untuk berhenti merokok, nggak. Saya tahu perokok punya alasan masing-masing juga untuk merokok and so do I with my intention to stay away, dan saya pikir dengan persepsi yang berbeda ini alangkah baiknya kalau kita saling menghargai, toh.
Tapi, melibatkan orang yang nggak merokok dengan rokok di tempat umum, menghargai, nggak sih?
Saya meragukan itu.
Kalian nggak akan pernah tahu orang-orang seperti apa yang ada di satu kendaraan umum kayak kalian. Kalian nggak tahu mereka sebenarnya gimana kalau mereka nggak bilang; entah mereka alergi, entah mereka punya penyakit yang bikin mereka nggak boleh kena asep rokok atau apapun itu. Atau yang simpel, orang yang kayak saya deh. Orang yang benci asap rokok dan nggak mau kena. Saya nggak suka asap rokok dan baunya. Kalau satu kendaraan umum dengan orang yang merokok buat rambut saya bau asap rokok. Baju saya bau rokok. Semuanya bau rokok, dan saya nggak suka. Saya nggak suka rokok nggak sebatas asapnya aja. Terserah kalau mau dibilang saya sok suci atau gimana, tapi inilah pendapat saya pribadi terhadap rokok, sebagaimana kalian punya persepsi tersendiri mengenai intensi kalian merokok, dan saya nggak akan ngomong supaya kalian berhenti atau apa, terserah.
Tapi,
hidupku bukan hidupmu. Jangan dicampuradukkan, lah. Saya maupun orang lain setidaknya sudah tahu lah segembar-gembor apa pemberitaan dan pemberitahuan mengenai dampak rokok, dan bebas pemberitahuan itu mau diindahkan atau tidak. Tapi jangan overgeneralisasi pendapat kalian dengan pendapat saya, tolong. Saya nggak suka, kalian suka. Jangan anggap saya nggak apa-apa ketika kalian kayak gitu. Saya nggak mau kena impas-impas yang sejak awal saya hindari dari rokok. Kalau nggak gitu mah ngapain atuhlah nggak ngerokok, impact yang didapat perokok pasif sama perokok aktif teh nggak beda-beda kontras kayak hitam-putih, tetap dua-duanya merugikan. Saya nggak mau jadi orang di abu-abu yang nggak merokok tapi kena impact. Ibaratnya, saya datang ke depan warung makan buat numpang duduk nunggu teman, tapi saya disuruh ikutan bayar makanan. Bukan salah saya, tapi saya yang kena juga.
Sekali lagi, bukannya saya nyuruh berhenti merokok buat perokok aktif. Nggak apa, saya hargai pendapat dan persepsi kalian. Tapi, hargai pendapat dan persepsi saya. Living in diversity itu harus dibudayakan. Janganlah sekiranya merokok di kendaraan umum. Jangan anggap semua orang yang naik terima dan pasrah sama itu. Jangan overgeneralisasi. Jangan anggap kendaraan umum itu kendaraan kalian. Kalian nggak hidup sesama orang-orang perokok aktif saja. Banyak tempat yang lebih luas daripada kendaraan umum di mana orang yang nggak merokok bisa menghindar dengan cara mereka sendiri dari rokok, nggak seperti di kendaraan umum di mana asapnya cuma mutar di situ-situ saja, karena jujur, saya ngerasa sesak dan nggak kuat sama baunya.
This is just an opinion for a girl who can't help blabbering after getting really,really mad.
(FYI, saya nggak pernah meminta seseorang berhenti merokok kecuali satu kali.
Papa saya dulu seorang perokok aktif.
When I was much younger, maybe eight or nine, I told him to stop smoking after getting so many infos about how bad the impacts are and the big possibility for my dad to have the same things with smoking.
0 Comments:
Post a Comment