Monday, May 26, 2014
#261 If, and only if
If, and only if
G/350 words
Kalau saja waktu itu tatap mata kita bertahan lebih lama,
Kalau saja,
Mungkin perasaan kita akan bertemu. Mungkin senyum yang tertahan itu akan tumpah juga mengotori topeng yang sama-sama kita pasang. Mungkin langkah yang sama-sama kita ambil untuk menjauh tak akan pernah ada. Mungkin kita akan sama-sama dengan malu menutupi rona wajah yang memerah karena kita tahu itu bukan ulah sang mentari. Mungkin kita akan menunduk menatapi petak ubin yang dijejaki kaki, padahal hati meronta-ronta ingin melirik wajah satu sama lain. Mungkin kita akan tertawa pada kebodohan diri sendiri—mau-maunya saja menutupi perasaan yang sebenarnya berbalas, mau-maunya saja memasang sejuta persona angkuh dan tak mau tahu padahal sama-sama menginginkan.
Mungkin...
Mungkin.
Kalau saja waktu itu bibir kita tak terkunci rapat untuk mengungkap rasa,
Kalau saja,
Mungkin aku akan meraihmu. Kau akan meraihku. Kita akan saling merengkuh, mendekap tak ingin kehilangan lagi. Tak ingin terlepas lagi. Tak ingin menutupi lagi. Kita akan tertawa dan senyum dari lengkung bibirmu akan jauh lebih gemilang daripada apapun. Duniaku jadi duniamu, dan begitu juga sebaliknya. Tak akan ada lagi palang melintang yang membuatmu khawatir, tak akan ada pula aral membentang yang membuatku ragu.
Mungkin...
Mungkin.
Kalau saja waktu itu aku tahu perasaanmu dan kau tahu perasaanku,
Kalau saja,
Tak akan pernah ada hampir yang hinggap antara kita. Tak akan pernah ada jarak yang melintang bak pagar membatasi, juga senyum canggung yang disertai garuk di tengkuk—gelas kaca yang selamanya selalu transparan membentang. Tak akan pernah ada tangis yang pecah karena sesal meluap di hati, berani-beraninya mempermainkan waktu. Ia sakit hati dipermainkan, begitu pun kita berdua. Kita terlalu rapuh, terlalu takut berekspektasi, padahal satu sama lain saling menunggu. Kita terlalu benci menabur harapan, padahal satu sama lain telah membayangkan masa depan bersama-sama. Kita terlalu naif untuk mengungkapkan, padahal satu sama lain saling menginginkan. Saling memimpikan. Saling menahan sakit tak berkesudahan akibat harapan yang terus ditumpuk tapi tak kunjung dikejar.
Kalau saja waktu itu kita tahu kita sama-sama ingin mendekap satu sama lain,
Tak akan pernah ada kata hampir yang sampai saat ini masih menyisakan lubang walaupun berusaha dilupakan.
Labels: fiction, random, written works


0 Comments:
Post a Comment